A. PENDAHULUAN
Sesudah lebih dari 4 dekade telah terjadi kecenderungan perubahan pekerjaan kefarmasian
di apotik dari fokus semula penyaluran obat-obatan kearah focus yang lebih terarah pada
kepedulian terhadap pasien. Peran apoteker lambat laun berubah dari peracik obat (compoun
der ) dan
suplair sediaan farmasi kearah pemberi pelayanan dan informasi dan akhirnya berubah lagi
sebagai pemberi kepedulian pada pasien. Disamping itu ditambah lagi tugas seorang apoteker
adalah memberikan obat yang layak , lebih efektif dan seaman mungkin serta memuaskan
pasien. Dengan mengambil tanggung jawab langsung pada kebutuhan obat pasien individual ,
apoteker dapat memberikan kontribusi yang berdampak pada pengobatan serta kualitas hidup
pasien. Pendekatan cara ini disebut
" pharmaceutical care "
(= asuhan kefarmasian ; peduli kefarmasian ).
Pharmaceutical care (p.c) adalah tanggung jawab pemberi pelayanan obat sampai
pada dampak yang diharapkan yaitu meningkatnya kualitas hidup pasien. ( Hepler dan Strand,
1990 ).
Seteleh diadopsi oleh International Pharmaceutical Federation (= FIP = ISFI nya dunia ) pada
tahun 1998, definisi itu ditambah dengan timbulnya dampak yang jelas atau menjaga kualitas
hidup pasien. Jadi menurut definisi FIP, pharmaceutical care adalah tanggung jawab
pemberi pelayanan obat sampai timbulnya dampak yang jelas atau terjaganya kualitas
hidup pasien.
Pekerjaan pharmaceutical care adalah baru, berlawanan dengan pekerjaan apoteker
beberapa tahun yang lalu.Banyak apoteker yang belum mau menerima tanggung jawab
ini. Dasar pengetahuan dari sarjana farmasi sedang berubah. Ketika seorang sarjana farmasi
mulai bekerja setelah lulus , pekerjaan kefarmasian sudah berubah dan merupakan
pengetahuan baru. Meskipun demikian seorang apoteker harus dapat bekerja sesuai dengan
pendidikannya . Walaupun apoteker dapat memberikan kemampuannya yang tepat pada
praktek kefarmasian, mereka tetap memerlukan pengetahuan dan ketrampilan pada peran yang
akan datang. Karena itu diperlukan pendidikan berkelanjutan ( life-long learner ) salah satu
peran apoteker yang baru. Lebih jelasnya lagi bahwa farmasi / apotik mempunyai peran penting
dalam proses reformasi sektor kesehatan. Dengan demikian peran apoteker perlu ditetapkan
kembali (redefinisi) dan diarahkan kembali (reorientasi).
Para apoteker harus mempunyai kemampuan untuk meningkatkan dampak pengobatan dan
meningkatkan kualitas hidup pasien dari sumber daya yang tersedia dan posisi mereka sendiri
harus terdepan dalam system pelayanan kesehatan.
Perubahan kearah pharmaceutical care adalah faktor yang kritis dalam proses ini. Meskipun
upaya untuk berkomunikasi dengan memberikan informasi yang benar pada pasien merupakan
faktor penting dalam membantu pengobatan sendiri, apoteker juga harus memberikan
kontribusi yang vital melalui manajemen terapi obat dan penyediaan obat tanpa resep ataupun
1 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
terapi alternatif.
Setelah lebih 40 tahun peran apoteker telah berubah dari penggerus dan peracik obat
menjadi manajer terapi obat. Tanggung jawab ini lama kelamaan meningkat lagi dalam
memberi dan menggunakan obat, kualitas obat harus di seleksi, disediakan, disimpan di
distribusikan, di racik dan di serahkan untuk meningkatkan kesehatan pasien dan tidak
menyakitinya.
Jangkauan pekerjaan apoteker di apotik saat ini , dirancang berpusat pada pasien dengan
semua fungsi-fungsi pengamatan, konseling, pemberian informasi dan monitoring terapi obat
sebaik aspek teknis seperti pelayanan farmasi dan pendistribusian obat.
Bab ini menguraikan peran baru, ketrampilan dan sikap dimana apoteker membutuhkan
sesuatu bila mereka menjadi anggota dari tim kesehatan multi disiplin, sebagai keuntungan
tambahan yang dapat membawa mereka pada keprofesionalan.
B. APAKAH KESEHATAN ITU ?
Pekerjaan kefarmasian tidak dilakukan dalam ruang hampa tapi dalam lingkungan kesehatan.
Kesehatan adalah suatu konsep luas dimana dapat menjadi suatu kisaran pengertian yang
lebar dari teknis sampai ke moral dan filosofi.
Definisi Kesehatan menurut konsep Konstitusi WHO tahun 1946 adalah keadaan sempurna
fisik, mental dan sosial, tidak adanya penyakit atau kelemahan. Setelah beberapa tahun WHO
mendiskusikan lagi dan mendefinisikan kesehatan sbb :
Keadaan dimana seorang individu atau kelompok dapat merealisasikan aspirasinya dengan
kebutuhan yang layak dan dapat melakukan perubahan / mengatasi kesukaran dari lingkungan.
Kesehatan merupakan suatu sumber daya yang penting dalam kehidupan sehari-hari, bukan
objek kehidupan dan merupakan suatu konsep positif yang mengutamakan sumber daya
personal dan sosial.
C. PROFESI FARMASI DIPERTANYAKAN
Terapi obat-obatan sangat sering digunakan dalam bentuk intervensi pengobatan dalam
rangkaian praktek kesehatan. Dia tumbuh secara cepat ketika rata-rata penduduk meningkat
umurnya, prevalensi penyakit khronis meningkat, infeksi penyakit baru tumbuh dan kisaran
pengobatan yang efektif menjadi berkembang. Tambahan lagi sangat banyak saat ini
dipasarkan apa yang dinamakan obat gaya hidup ( life-style medicine ) seperti untuk
pengobatan penyakit kebotakan , pengobatan kulit kering dan mengkerut serta disfungsi ereksi.
Meningkatnya jumlah dan jenis obat-obatan yang dapat diperoleh dalam perdagangan
sekarang ini , lebih banyak ditangani oleh orang yang bukan tenaga kefarmasian . Sebaliknya
peracikan obat telah digantikan oleh pabrik farmasi pada hampir semua formulasi. Obat-obatan
pun dapat diperoleh di super market, di toko-toko obat dan kios-kios di pasar. Juga obat-obatan
dapat pula diperoleh dengan order via pos, tilpon atau internet atau dijual oleh dokter praktek
dan diracik secara mesin racikan komputer.
Dibawah lingkungan seperti ini tepat dipertanyakan hal-hal berikut ini :
1. Apakah masih diperlukan apoteker itu ?
2. Berapakah nilai pelayanan farmasi itu ?
Profesi adalah untuk melayani masyarakat.
2 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
Seorang tenaga profesi adalah seorang pelayan masyarakat. Karena itu misi
profesi apoteker harus dialamatkan pada kebutuhan masyarakat dan pasien individual.
Pada suatu waktu, penetapan terapi obat dan pelaksanaannya begitu sederhana, aman dan
tidak mahal. Dokter meresepkan dan apoteker meracik obat. Meskipun demikian ada bukti
dasar bahwa metoda peresepan dan peracikan demikian tidak selalu aman dan efektif akibat
terjadi kesalahan dan obat. Di negara-negara maju 4 - 10 % dari semua pasien rawat inap
timbul efek samping, terutama di sebabkan penggunaan terapi banyak obat (multiple drug)
pada pasien orang tua dan pasien penyakit khronis.
FIP telah menerbitkan Standar Profesional dan Medication Error dalam peresepan obat dan
membuat definisi tentang M
edication Error
Pekerjaan Profesional yang bertanggung jawab adalah issu utama dalam kepedulian
kesehatan ( health care ). Dalam hubungan tradisional antara dokter sebagai penulis resep dan
apoteker sebagai peracik obat, penulis resep bertanggung jawab atas hasil farmakoterapinya.
Situasi itu sedang berubah dengan cepat dalam sistem kesehatan. Praktek pelayanan farmasi
sedang berubah dimana apoteker bertanggung jawab juga pada pasien dengan kepeduliannya
dan masyarakat tidak hanya menerima perlakuan tapi juga memegang profesi ini.
Pada waktu yang sama, profesi lain seperti dokter, perawat, bidan, asisten apoteker juga
berupaya dengan kompetensinya dan merasa sebagai pemimpin dalam pengobatan.
Mahasiswa Farmasi harus di didik dalam memegang tanggung jawab mengelola terapi obat
sehingga mereka dapat memelihara dan mengembangkan posisinya dalam dunia kesehatan
dan untuk itu harus ada kompensasi atas peran mereka dalam asuhan kefarmasian ( pharmace
utical care
).
Dispensing harus menjadi tanggung jawab apoteker. Meskipun sedikit apoteker yang terlibat
langsung dalam dispensing obat-obatan, tapi pada daerah pedesaan apoteker harus memimpin
proses dispensing dan bertanggung jawab atas kualitas obat dan dampak pengobatan.
serta merekomendasikan pada anggotanya untuk meningkatkan keamanan dalam
pemesanan, pembuatan, peracikan, pelabelan, penyerahan dan penggunaan obat.
D. DIMENSI BARU PEKERJAAN KEFARMASIAN.
1. ASUHAN KEFARMASIAN ( Pharmaceutical care ).
2. FARMASI BERDASARKAN BUKTI ( Evidence base pharmacy ).
3. KEBUTUHAN MENJUMPAI PASIEN ( Meeting patients needs ).
4. PENANGANAN PASIEN KHRONIS-HIV/AIDS (Chronic patient care hiv/aids).
5. PENGOBATAN SENDIRI ( self-medications).
6. JAMINAN MUTU PELAYANAN KEFARMASIAN ( quality assurance of pharmaceutical care
).
7. FARMASI KLINIS ( clinical pharmacy ).
8. KEWASPADAAN OBAT ( pharmacovigilance = MESO ).
1. ASUHAN KEFARMASIAN.
3 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
Pharmaceutical care adalah konsep dasar dalam pekerjaan kefarmasian yang timbul
pertengahan tahun 1970-an. Dia mengisyaratkan bahwa semua praktisi kesehatan harus
memberikan tanggung jawab atas dampak pemberian obat pada pasien. Hal ini meliputi
bermacam-macam pelayanan dan fungsi, beberapa masih baru sebagian sudah lama.
Konsep pharmaceutical care juga termasuk komitmen emosional pada kesejahteraan pasien
sebagai individu, yang memerlukan dan patut mendapat petunjuk /jasa, keterlibatan dan
perlindungan dari seorang apoteker. Pharmaceutical care dapat
ditawarkan pada individual atau masyarakat.
Pharmaceutical care yang berbasiskan masyarakat menggunakan data demografi dan
epidemiologi untuk mengembangkan formula atau daftar obat, memonitor kebijakan apotik,
mengembangkan dan mengelola jaringan farmasi (apotik) menyiapkan serta menganalisa
laporan penggunaan obat, biaya obat, peninjauan penggunaan obat dan mendidik provider
tentang prosedur dan kebijaksanaan obat.. Tanpa pharmaceutical care,
tidak ada sistem yang mengelola dan memonitor kesakitan karena obat secara efektif. Sakit
karena obat bisa terjadi berasal dari formularium atau daftar obat-obatan, atau sejak obat
diresepkan, diserahkan atau obat yang sudah tidak layak digunakan. Karena itu pasien butuh
pelayanan apoteker pada waktu menerima obat. Keberhasilan farmakoterapi merupakan
sesuatu yang spesifik untuk masing-masing pasien. Untuk pelayanan pengobatan pasien
secara individual, apoteker perlu mengembangkan pelayanan bersama dengan pasien.
Pharmaceutical care tidak dalam isolasi pelayanan kesehatan lain. Dia harus di dukung dalam
kolaborasi dengan pasien, dokter , para medis dan tenaga pemberi pelayanan lainnya.
Tahun 1998 Pharmaceutical care di adopsi oleh FIP dan merupakan penuntun (guidance)
bagi organisasi apoteker untuk mengimplementasikan pelayanan kefarmasian di negaranya tapi
disesuaikan lagi menurut kebutuhan negara masing-masing.
2. FARMASI BERDASARKAN BUKTI.
Dalam lingkungan pelayanan kesehatan agak sukar membandingkan keefektifan berbagai
pengobatan. Intervensi layanan kesehatan tidak bisa didasarkan pada pendapat atau
pengalaman individu sendiri. Bukti ilmiah dibuat dari penelitian yang berkualitas, yang
digunakan sebagai penuntun, diadaptasikan pada negara-negara masing-masing. Lebih jauh
tentang ini akan diuraikan pada bab lain.
3. KEBUTUHAN MENJUMPAI PASIEN.
Dalam pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien , tantangan pertama adalah untuk
mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan pasien yang berubah.. Apoteker harus dapat
menjamin bahwa orang-orang bisa memperoleh obat atau nasehat kefarmasian dengan mudah,
sejauh mungkin dalam satu jalan, satu waktu dan satu tempat dari pilihan mereka. Apoteker
harus bisa memberdayakan pasien dan melakukan dialog guna menyampaikan pengetahuan
yang mereka miliki dalam mengelola pengobatan dan kesehatan sendiri. Meskipun pasien
4 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
mendapat jangkauan yang luas untuk memperoleh informasi baik dari brosur,barang-barang
promosi, iklan di media massa dan melaui internet, informsi ini tidak selalu akurat dan lengkap.
Apoteker dapat membantu pasien memberikan informasi yang lebih akurat dengan memberikan
informasi berdasarkan bukti dari sumber-sumber yang dipercaya. Konseling melalui pendekatan
perjanjian tentang pencegahan penyakit dan modifikasi gaya hidup (lifestyle) akan
meningkatkan kesehatan masyarakat disamping memberikan petunjuk bagaimana
menggunakan obat yang tepat , mengoptimalkan dampak kesehatan, mengurangi jumlah jenis
obat pada setiap pengobatan, mengurangi jumlah obat yang bersisa dan meningkatkan
pelayanan kesehatan.
Dalam tahun 2000 publikasi dari Kementerian Kesehatan Inggris berjudul "Pharmacy in
the Future
" disusun untuk keperluan seorang apoteker untuk meningkatkan dan memperluas
kisaran pelayanan kefarmasian pada pasien termasuk identifikasi kebutuhan obat perorangan,
pengembangan kerjasama dalam bidang kesehatan, kordinasi dari poses peresepan dan
peracikan, peninjauan kembali target pengobatan dan tindak lanjutnya. Pendekatan ini juga
memuat model apotik masa depan . Kerangka baru dari farmasi komunitas yang akan
dilaksanakan merupakan kunci dalam pelayanan kefarmasian masa depan. Farmasi komunitas
akhir-akhir ini akan menjamin kembali pelayanan yang diharapkan pasien, memaksimalkan
potensi apoteker untuk memberikan ketrampilan mereka pada hasil yang lebih baik
4. KEPEDULIAN PADA PASIEN KHRONIS HIV-AIDS. Dalam sejarah dunia
selama ini belum pernah ada tantangan kesehatan sehebat menghadapi penyebaran ( pandemi
) HIV-AIDS .
Diperkirakan 40 juta orang didunia tahun 2004 hidup dengan HIV dan 3 juta orang mengidap
AIDS . Penularan HIV / AIDS menampilkan masalah kemanusiaan yang luar biasa , hak azasi
manusia, krisis kemanusiaan dan tragedi sosial luar biasa yang memukul ekonomi dan
kesehatan masyarakat.
Ketersediaan sumber keuangan untuk pengobatan retrovirus (ART) mulai meningkat berasal
dari WHO dan negara yang tergabung kelompok G-8 guna pencegahan dan pengobatan HIV /
AIDS sampai tahun 2010.
Salah satu profesi kesehatan yang harus dilibatkan dan digerakkan dalam melawan HIV /
AIDS ini adalah apoteker. Untuk itu perlu pelatihan terhadap profesi apoteker.
Pada tahun 2003 , Majelis FIP mengadopsi standar Profesi tentang Peranan Apoteker dalam
penanganan Pengobatan Jangka Panjang, seperti HIV - AIDS ini.
Dalam tahun 2004 FIP meluncurkan Website International Network untuk apoteker
(www.fip.org/hivaids ) yang berfokus pada 3 pilar utama : Pelatihan , dokumentasi dan pertu
karan pengalama
n
.
5. PENGOBATAN SENDIRI (SELF MEDICATION).
Pada Tahun 1996 Majelis FIP mengadopsi aturan tentang " Peranan Profesi Apoteker
dalam Pengobatan Sendiri " untuk digunakan sebagai tanggung jawab apoteker dalam
pemberian advis pada pengobatan sendiri yang terdiri dari ; pengantar farmasi, promosi
penjualan; advis pada pengobatan simptom, hal-hal yang spesifik tentang
5 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
obat, catatan rujukan dan kepercayaan diri.
Pada tahun 1999 dikeluarkan Deklarasi bersama mengenai Self Medication antara majelis
FIP dan Industri Pengobatan Sendiri Dunia ( WSMI ) sebagai pemandu apoteker dan industri
dalam hal keamanan dan keefektifan penggunaan obat-obatan tanpa resep .
Luasnya Peranan Apoteker.
Sebagai seorang yang ahli dalam hal obat-obatan karena pendidikannya , apoteker harus
selalu dikenal dan dapat dihubungi sebagai sumber nasehat yang benar tentang obat-obatan
dan masalah pengobatan. Saat ini kontribusi apoteker pada perawatan kesehatan ( health care
) sedang berkembang dalam bentuk baru untuk mendukung pasien dalam penggunaan obat
dan sebagai bagian dari pembuat keputusan klinis bersama spesialis yang lain.
Apotik harus terbuka sepanjang hari, nyaman untuk banyak orang ketika mendapatkan obat
dan tidak perlu harus ada janji untuk ketemu apotekernya. Ini membuat apotik menjadi tempat
pertama bagi bantuan pemeliharaan kesehatan yang biasa.
Pengobatan sendiri yang biasa akan menjadi lebih populer, tumbuh dengan aman dengan
obat-obatnya yang mudah didapat tanpa perlu dengan resep dokter.
Apoteker harus mempunyai keahlian dalam memberi nasehat, memilih obat dan
keamanannya serta keefektifan penggunaannya.
6. JAMINAN MUTU ( Q.A.) DARI PELAYANAN KESEHATAN.
Konsep yang menjadi dasar pelayanan kesehatan adalah jaminan kualitas dari pelayanan
pasien. Donabedian mendefinisikan 3 unsur jaminan mutu dalam pelayanan kesehatan adalah :
struktur, proses dan dampak.
Definisi Quality Assurance adalah rangkaian aktifitas yang dilakukan untuk memonitor dan
meningkatkan penampilan sehingga pelayanan kesehatan se efektif dan se efisien mungkin.
Dapat juga didefinisikan QA sebagai semua aktifi tas yang berkontribusi untuk menetapkan,
merencanakan, mengkaji, memoni tor,dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Aktifitas ini dapat ditampilkan sebagai akreditasi pelayanan farmasi ( apotik), pengawasan
tenaga kefarmasian atau upaya lain untuk meningkatkan penampilan dan kualitas pelayanan
kesehatan.
Pelaksanaan dan praktek dari pharmaceutical care harus di dukung dan di tingkatkan dengan
pengukuran, pengkajian dan peningkatan aktifitas apotik , penggunaan kerangka konsep
peningkatan kualitas secara berkesinambungan. Dalam banyak kasus kualitas pelayanan
kefarmasian dapat ditingkatkan dengan membuat perubahan pada sistem pelayanan kesehatan
atau sistem pelayanan kefarmasian tanpa perlu menambah sumber daya.
7. FARMASI KLINIS.
Istilah farmasi klinis dibuat untuk menguraikan kerja apoteker yang tugas utamanya
berinteraksi dengan tim kesehatan lain, interview dan menaksir pasien, membuat rekomendasi
terapi spesifik, memonitor respons pasien atas terapi obat dan memberi informasi tentang obat.
6 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
Farmasi klinis tempat kerjanya di rumah sakit dan ruang gawat darurat dan pelayanannya lebih
berorientasi pada pasien dari pada berorientasi produk. Farmasi klinis dipraktekkan terutama
pada pasien rawat inap dimana data hubungan dengan pasien dan tim kesehatan mudah
diperoleh.
Rekam Medis ( medical record ) atau file dari pasien adalah dokumen resmi termasuk
informasi yang diberikan rumah sakit, dimulai dari riwayat pasien , kemajuan latihan fisik
sehari-hari yang dibuat tenaga kesehatan yang profesional yang berinteraksi dengan pasien,
konsultasi , catatan perawatan, hasil laboratorium, prosedur diagnosa dsb.
Farmasi klinis memerlukan pengetahuan terapi yang tinggi, pengertian yang baik atas proses
penyakit dan pengetahuan produk-produk farmasi. Tambahan lagi farmasi klinis memerlukan
ketrampilan berkomunikasi yang baik dengan pengetahuan obat yang padat ketrampilan monito
ring
obat, pemberian informasi obat , ketrampilan perencanaan terapi dan kemampuan
memperkirakan dan menginterpretasikan hasil laboratorium dan fisik.
Penakaran farmakokinetik dan monitoring merupakan ketrampilan dan pelayanan istimewa
dari farmasi klinis. Seorang farmasi klinis adalah sering merupakan anggota tim kesehatan
yang aktif , ikut serta ke bangsal untuk mendiskusikan terapi di ruang rawat inap.
8. FARMAKOVIGILANCE ( FARMASI SIAGA / KEWASPADAAN FARMASI =MESO )
Keamanan obat-obatan adalah issu penting yang lain , karena kompetisi yang kuat diantara
pabrik farmasi , dimana produk harus didaftarkan dan di pasarkan di banyak negara secara
serentak. Hasilnya adalah efek samping tidak boleh ada dan tidak terpantau secara sistematis.
Farmacovigilance adalah suatu proses yang terstruktur untuk memantau dan mencari
efek samping obat ( advere drug reaction ) dari obat yang telah
diberikan.
Data-data diperoleh dari sumber-sumber seperti Medicines Information, Toxicology and Phar
macovigilance Centres
yang lebih relevan dan bernilai pendidikan dalam manajemen keamanan obat. Masalah yang
berhubungan dengan obat, sekali ditemukan , perlu ditetapkan , di analisa ,di tindak lanjuti dan
dikomunikasikan pada pejabat yang berwewenang, profesi kesehatan dan masyarakat.
Farmacovigilance termasuk penyebarluasan informasi, Dalam beberapa kasus, obat-obatan
dapat di recall, dicabut izin edarnya dari pasaran dan ini dilakukan oleh
institusi yang terlibat dalam distribusi obat-obatan. Apoteker harus memberikan kontribusi yang
penting untuk melakukan post marketing surveilance dan phar
macovigilance
ini.
E. NILAI DARI PELAYANAN APOTEKER YANG PROFESIONAL
Asuhan kefarmasian berdampak pada keadaan kesehatan pasien, meningkatkan kualitas dan
ketepatan biaya ( cost efective ) dalam sistem kesehatan. Peningkatan ini memberi faedah
pada kesehatan individual sehingga mereka akan menikmati kesehatan lebih baik dan akhirnya
bermanfaat pada sebagian besar penduduk.
Pelayanan apoteker dan keterlibatannya dalam pelayanan yang berfokuskan pada pasien
telah memberikan dampak kesehatan dan ekonomi serta mengurangi angka kesakitan (morbidit
7 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
y ) dan
angka kematian (
mortality
).
Suatu pemberian imbalan (remuneration) yang pantas pada apoteker adalah kunci
untuk menjamin mereka melaksanakan praktek pelayanan farmasi yang baik (
good pharmacy practice
) dan selanjutnya berubah kearah
pharmaceutical care
.Walaupun demikian upaya untuk menjamin bahwa apoteker layak diberi imbalan, akan
memerlukan dokumen yang secara nyata meningkatkan dampak sebagai pernyataan dari
penyedia dana bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang memberikan nilai ekonomi .
Klasifikasi kegiatan praktek farmasi (
The Pharmacy Practice Activity Classification
= PPAC ).
Sebagai apoteker yang prakteknya berfokuskan peningkatan asuhan kefarmasian dan
mengharapkan diberikan kompensasi untuk pelayanan pharmaceutical care itu , kebutuhan
pada klasifikasi praktek farmasi yang dapat diterima secara konsisten harus menjadi lebih nyata
( terbukti ). Meskipun banyak sistem untuk mencatat aktifitas apoteker , sampai sekarang
profesi ini kurang diterima untuk menguraikan atau mencatat aktifitas dalam bahasa yang
umum. Klassifikasi aktifitas praktek farmasi (PPAC) telah dicoba buat oleh The American
Pharmacists Association (APhA= ISFI nya Amerika ) dalam bahasa yang sederhana yang jika
digunakan secara konsisten akan menghasilkan data perbandingan diantara studi-studi yang
ada.
F. APOTEKER SEBAGAI ANGGOTA TIM PELAYANAN KESEHATAN.
Tim pelayanan kesehatan terdiri dari pasien dan semua profesi kesehatan yang
bertanggung jawab untuk kepedulian kesehatan pasien. Tim ini perlu didefinisikan secara baik
dan perlu kerjasama secara aktif. Apoteker mempunyai peran yang penting dalam tim ini.
Mereka akan memerlukan penyesuaian pengetahuan mereka , ketrampilan dan sikap pada
peran yang baru ini, dalam mana mengintegrasikan ilmu farmasi dengan aspek klinis pada
pelayanan kesehatan pasien, ketrampilan klinis, ketrampilan manajemen dan komunikasi serta
kerjasama yang aktif dalam tim medis dan ikut dalam pemecahan masalah obat-obatan.
Jika mereka diakui sebagai sebagai anggota penuh tim kesehatan, para apoteker akan butuh
untuk mengadopsi sikap essensial dalam kerja profesi kesehatan pada wilayah ; pandangan ( vi
sibility
; ), tanggung jawab (
responsibility
), keterjangkauan (
accessibility
) dalam tugas yang diperlukan untuk masyarakat, kepercayaan diri dan orientasi pasien.
&;nbsp; Apoteker harus memiliki kompetensi , visi dan suara dalam berintegrasi penuh
kedalam tim kesehatan.
Aliansi Profesi Kesehatan Sedunia yang didirikan tahun 1999 untuk menfasilitasi kerjasama
diantara organisasi apoteker sedunia ( FIP) , organisasi dokter sedunia (WMA), majelis
8 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
perawat sedunia (
ICN
), ikatan dokter gigi sedunia (
F
DI
) guna membantu Pemerintah, pembuat kebijakan dan WHO supaya tercipta pelayanan
kesehatan yang lebih baik, dan cost efectif ( www.whpa.org).
1. Rangkaian pekerjaan farmasi.
Peran apoteker terdapat dalam berbagai sektor di dunia. Keterlibatan apoteker dalam
kefarmasian eda dalam dunia riset dan pengembangan (R&D), formulasi, manufaktur , jaminan
mutu, lisensi, marketing, distribusi, penyimpanan, suplai, tugas informasi, dikelompokkan
menjadi pelayanan kefarmasian dan diteruskan kedalam bentuk dasar dari praktek farmasi.
Apoteker bekerja dalam rangkaian variasi yang lebar , dalam bentuk farmasi komunitas ( retail
dan pelayanan kesehatan ), farmasi rumah sakit ( dalam berbagai bentuk dari rumah sakit kecil
sampai rumah sakit besar ) , industri farmasi farmasi dan lingkungan akademis. Disamping itu
apoteker juga terlibat administrasi pelayanan kesehatan, penelitian, organisasi kesehatan
internasional dan organisasi non pemerintah.
2. Tingkatan praktek dan pembuatan keputusan.
Praktek farmasi terdapat pada level yang berbeda-beda. Tujuan akhir dari aktifitas ini
adalah manfaat pada pasien dengan meningkatkan dan menjaga kesehatan mereka. Aktifitas
pada level pasien individual adalah mendukung dan mengelola terapi obat. Pada level ini
keputusan dibuat pada issu pharmaceutical care dan triage ( prioritas pelayanan, tindak lanjut
dan pemantauan dampak pengobatan ).
Beberapa aktifitas pada level manajemen suplai dalam farmasi komunitas dan rumah sakit
adalah pembuatan, peracikan , pengadaan dan distribusi obat.
Pada level institusi seperti di rumah sakit dan klinik, organisasi pengelolaan pelayanan atau
apotik aktifitas pada seleksi obat termasuk formularium, pedoman pengobatan dan peninjauan
penggunaan obat-obatan. Tool ini harus diterima sebagai pemberi pelayanan kesehatan dan
harus dilaksanakan.
Pada level sistem ( seperti negara , negara bagian , propinsi ) aktifitas apoteker pada
perencanaan, pengelolaan, legislasi, regulasi dan kebijaksanaan masih memungkinkan untuk
dikembangkan dalam pengembangan dan pengoperasian sistem pelayanan kesehatan. Pada
level sistem ini juga termasuk penetapan standar pelayanan dan perizinan apotik.
9 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
Kebijaksanaan Obat Nasional telah berkembang pada banyak negara sebagai kebijaksanaan
kesehatan . Pada level internasional telah bergerak kearah harmonisasi pendekatan pada
industri farmasi dan pelayanan apotik.
Pada level komunitas dan penduduk, praktek kefarmasian termasuk aktifitas pendukung
level-level lain yaitu pemberian informasi, edukasi dan komunikasi untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat, pemberian informasi obat-obatan, penelitian,, penyebar-luasan
informasi baru , pendidikan dan pelatihan staf, barang-barang konsumen , organisasi kesehatan
dan peneliti sistem kesehatan.
Promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan modifikasi gaya hidup adalah aktifitas pada
level komunitas yang berfokus kesehatan masyarakat. Apoteker dapat masuk pada bagian
mana saja karena mereka mempunyai latar belakang pendidikan kesehatan. Apoteker
merupakan sumber informasi dan nasehat mengenai kesehatan dan obat-obatan.
Karena demikian mereka tidak dapat bekerja dalam isolasi dan harus menerima tanggung
jawab bersama dengan profesi kesehatan lain dalam melaksanakan pelyanan kesehatan
masyarakat.
3. The seven star pharmacist.
Untuk bisa efektif sebagai anggota tim kesehatan, apoteker butuh ketrampilan dan
sikap untuk melakukan fungsi-fungsi yang berbeda-beda. Konsep the seven-star
pharmacist
diperkenalkan oleh WHO dan diambil oleh FIP pada tahun 2000 sebagai kebijaksanaan
tentang praktek pendidikan farmasi yang baik (
Good Pharmacy Education Practice
) meliputi sikap apoteker sebagai : pemberi pelayanan (
care-giver
), pembuat keputusan (
decision-maker
) , communicator, manager, pembelajaran jangka panjang (
life-long learner
), guru (
teacher
) dan pemimpin (
leader
)
. Pada buku pegangan ini penerbit menambahkan satu fungsi lagi yaitu sebagai
researcher
( peneliti ).
a. Care- giver.
10 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
Dalam memberikan pelayanan mereka harus memandang pekerjaan mereka sebagai bagian
dan terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan dan profesi lainnya . Pelayanannya harus
dengan mutu yang tinggi.
b. Decision- maker
Penggunaan sumber daya yang tepat , bermanfaat , aman dan tepat guna seperti SDM,
obat-obatan, bahan kimia, perlengkapan, prosedur dan pelayanan harus merupakan dasar
kerja dari apoteker. Pada tingkat lokal dan nasional apoteker memainkan peran dalam
penyusunan kebijaksanaan obat-obatan. Pencapaian tujuan ini memerlukan kemampuan untuk
mengevaluasi, menyintesa informasi dan data serta memutuskan kegiatan yang paling tepat.
c. Communicator
Apoteker adalah merupakan posisi ideal untuk mendukung hubungan antara dokter dan
pasien dan untuk memberikan informasi kesehatan dan obat-obatan pada masyarakat. Dia
harus memiliki ilmu pengetahuan dan rasa percaya diri dalam berintegrasi dengan profesi lain
dan masyarakat. Komunikasi itu dapat dilakukan secara verbal ( langsung ) non verbal ,
mendengarkan dan kemampuan menulis.
d. Manager.
Apoteker harus dapat mengelola sumber daya ( SDM, fisik dan keuangan ) , dan informasi
secara efektif . Mereka juga harus senang dipimpin oleh orang lainnya , apakah pegawai atau
pimpinan tim kesehatan. Lebih-lebih lagi teknologi informasi akan merupakan tantangan ketika
apoteker melaksanakan tanggung jawab yang lebih besar untuk bertukar informasi tentang obat
dan produk yang berhubungan dengan obat serta kualitasnya. e. Life-long learner
Adalah tak mungkin memperoleh semua ilmu pengetahuan di sekolah farmasi dan masih
dibutuhkan pengalaman seorang apoteker dalam karir yang lama. Konsep-konsep,
prinsip-prinsip , komitmen untuk pembelajaran jangka panjang harus dimulai disamping yang
diperoleh di sekolah dan selama bekerja. Apoteker harus belajar bagaimana menjaga ilmu
pengetahuan dan ketrampilan mereka tetap up to date.
f. Teacher
Apoteker mempunyai tanggung jawab untuk membantu pendidikan dan pelatihan generasi
berikutnya dan masyarakat.. Sumbangan sebagai guru tidak hanya membagi ilmu pengetahuan
pada yang lainnya, tapi juga memberi peluang pada praktisi lainnya untuk memperoleh
pengetahuan dan menyesuaikan ketrampilan yang telah dimilikinya.
g. Leader
Dalam situasi pelayanan multi disiplin atau dalam wilayah dimana pemberi pelayanan
kesehatan lainnya ada dalam jumlah yang sedikit, apoteker diberi tanggung jawab untuk
menjadi pemimpin dalan semua hal yang menyangkut kesejahteraan pasien dan masyarakat.
Kepemimpinan apoteker melibatkan rasa empati dan kemampuan membuat keputusan ,
berkomunikasi dan memimpin secara efektif. Seseorang apoteker yang memegang peranan
sebagai pemimpin harus mempunyai visi dan kemampuan memimpin.
h. Researcher
Apoteker harus dapat menggunakan sesuatu yang berdasarkan bukti ( ilmiah , praktek
farmasi , sistem kesehatan ) yang efektif dalam memberikan nasehat pada pengguna obat
secara rasional dalam tim pelayanan kesehatan.. Dengan berbagi pengalaman apoteker dapat
juga berkontribusi pada bukti dasar dengan tujuan mengoptimalkan dampak dan perawatan
pasien.. Sebagai peneliti , apoteker dapat meningkatkan akses dan informasi yang
berhubungan dengan obat pada masyarakat dan tenaga profesi kesehatan lainnya.
11 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
G. PRAKTEK FARMASI : SUATU KOMITMEN UNTUK MELAKUKAN
PERUBAHAN
1. PERUBAHAN KEBIJAKAN
WHO Konsultatif Group untuk Peranan Apoteker telah dilaksanakan di New Delhi
tahun 1968, di Tokyo tahun 1993. Majelis Kesehatan Sedunia ( W H Assembly ) tahun 1994
memutuskan dalam pengembangan dan pelaksanaan Kebijaksanaan Obat Nasional diarahkan
pada "penggunaan obat yang rasional". Kebijaksanaan Obat Nasional ( KONAS)
yang telah dikembangkan pada lebih dari 100 negara anggota WHO dan telah menyusun
kerangka untuk praktek kefarmasian yang baik ( good pharmaceutical practice) Strategi Obat
Revisi WHO sehubungan dengan peranan apoteker telah dibuat pada tahun 1994 sebagai
resolusi WH Assembly tersebut diatas. Resolusi ini merupakan kunci bagi peran apoteker
dalam kesehatan masyarakat, termasuk penggunaan obat-obatan. Resolusi itu menekankan
tanggung jawab apoteker pada pemberian informasi dan nasehat tentang obat serta
penggunaannya , memajukan konsep pharmaceutical care dan berpartisipasi aktif dalam
pencegahan penyakit serta promosi kesehatan. Forum konsultasi WHO tentang peran apoteker
ketiga telah dilakukan di Vancouver tahun 1997 dan ke empat dilakukan di Hague tahun 1998.
2. PERUBAHAN DALAM PENDIDIKAN FARMASI DAN PENDEKATAN
PEMBELAJARAN BARU
Apoteker berdiri pada daerah antara riset dan pengembangan , manufaktur , penulis
resep, pasien dan obat itu sendiri. WHO telah menghimbau agar lebih besar keterlibatan
apoteker dalam sistem pelayanan kesehatan umum dan penggunan obat yang lebih besar
sesuai latar belakang pendidikan akademisnya. Dalam hal pernyataan kebijaksanaan ini FIP
mengatakan bahwa perubahan dalam peran apoteker harus di refleksikan dalam pendidikan
berkelanjutan apoteker, dengan lebih banyak fokusnya pada pembelajaran mahasiswa.
Paradigma baru farmasi memerlukan apoteker yang lebih ahli dalam ilmu farmaseutik dan kimia
farmasi. Mereka harus mengerti dan menggunakan aturan-aturan di belakang semua keperluan
dalam aktifitas mengelola terapi obat. Pada tahun 1999 Asosiasi Fakultas Farmasi Eropa
mengajukan suatu pergantian program studi farmasi dari ilmu yang berbasiskan laboratorium
kepada ilmu praktek dan klinis.
Perubahan kearah pendekatan perawatan pasien telah terjadi dalam bermacam tingkatan di
12 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
beberapa negara seperti Inggris dan Amerika Serikat. Ini meliputi daerah yang amat luas dan
merupakan peluang bagi apoteker untuk merubah dan meningkatkan dampak pada pasien
secara integral, dan sebagai anggota yang aktif dalam tim pelayanan pasien. Tetapi, terutama
di negara-negara berkembang, kurikulum farmasi telah lama dilalaikan pada banyak institusi
pendidikan , dimana telah membantu mengekalkan status apoteker yang kurang bermutu dalam
pelayanan sektor kesehatan . Dalam kurikulum farmasi tradisional, penekanan kurikulum lebih
sering pada aspek teknis kefarmasian bukan pada praktek profesional.
Tekanan dibelakang perubahan pendidikan farmasi, banyak variasinya dan meningkat dalam
jumlah serta intensitasnya. Kekuatan ekonomi dan politik yang besar telah mempengaruhi
sistem kesehatan di banyak negara dan juga mempunyai pengaruh pada praktek kefarmasian .
Sebagai hasilnya adalah diperlukan perubahan radikal dalam pendidikan kefarmasian. Peranan
dan fungsi apoteker serta staf kefarmasian perlu dikaji kembali dan dampak pendidikan beserta
kurukulum farmasi harus di definisikan kembali secara jelas . Penggunaan dampak akan
menolong pengembangan kurikulum. Dampak pendidikan harus termasuk dalam hal-hal berikut
ini :
1. Pharmaceutical care dengan penekanan berfokus pada kepedulian kepada pasien dan
masyarakat.
2. Manajemen sistem sumber daya ( sumber daya manusia, obat-obatan,, informasi dan
teknologi ).
3. Jaminan kesehatan masyarakat yang efektif, bermutu,serta pelayanan pencegahan dan
kebijaksanan pengembangan kesehatan masyarakat.
Perubahan pendidikan farmasi tidak hanya memerlukan revisi dan restrukturisasi kurikulum
tapi juga suatu komitmen pada pada pengembangan fakultas yang menyiapkan dosen-dosen
untuk mendidik apoteker dalam bentuk yang berbeda. Tipe dan dalamnya pelajaran dan materi
pengalaman termasuk suatu yang akan berbeda. Jumlah dan alokasi sumber pendidikan harus
berubah. Sekolah / perguruan tinggi farmasi harus kreatif, maju dan mrnyiapkan model praktek
yang bernilai serta dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan .
Kurikulum pelatihan harus di pertimbangkan sesuai dengan kebutuhan, target audien,
dampak pembelajaran , isi pelatihan , metode pengajaran, sumber pelajaran, pengkajian
peserta, evaluasi pelatihan dan jaminan mutu .
Beberapa tahun terakhir telah dilakukan suatu pergantian dalam pendidikan ilmu
kesehatan kearah pembelajaran berdasarkan masalah. Kurikulum farmasi berdasarkan
masalah juga telah dikembangkan pada beberapa negara seperti Inggris, Australia, Nederland
dan Afrika Selatan. Di banyak negara standar kompetensi juga telah didefinisikan dan disiapkan
guna diperbandingkan. Standar ini digunakan untuk mengkaji pengetahuan profesional
kesehatan dan kemampuan untuk uji registrasi atau dalam pengembangan profesi
berkelanjutan ( continuing professional development = CPD ) . CPD termasuk juga
penelitian dan refleksinya pada dampak pekerjaan, akan memberikan arti pada pemeliharaan
kompetensi jangka panjang.
Inilah saatnya perubahan mahabesar akan terjadi dalam pelayanan kesehatan dan
profesi farmasi. Tidak ada waktu lagi dan sejarah baru dari profesi farmasi harus
dimunculkan dengan penuh tantangan dan peluang. Sementara itu profesi farmasi harus
diarahkan kepada asuhan kefarmasian sebagai kontribusi besar yang di persembahkan kepada
masyarakat, pendidikan kefarmasian pun perlu dikembangkan, kompetensi , isi dan proses
kurikulum pendidikan perlu disiapkan untuk mendidik mahasiswa kepada asuhan kefarmasian (
13 / 15PERKEMBANGAN PRAKTEK KEFARMASIAN
pharmaceutical care
) dalam memasuki sistem pelayanan kesehatan nanti.
H. KESIMPULAN
Meskipun jumlah produk kefarmasian meningkat di pasaran , akses kepada obat-obat
essensial masih lemah di seluruh dunia. Meningkatnya biaya pelayanan kesehatan, perubahan
sosial, ekonomi, teknologi , dan politik telah membuat suatu kebutuhan reformasi pelayanan
kesehatan di seluruh dunia. Pendekatan baru ini dibutuhkan pada level perorangan dan
masyarakat untuk menyokong keamanan dan keefektifan pengunaan obat pada pasien dalam
lingkungan yang lebih kompleks.
Apoteker adalah suatu posisi yang istimewa untuk memenuhi kebutuhan profesional ini guna
menjamin keamanan dan keefektifan penggunaan obat-obatan . Oleh sebab itu apoteker harus
menerima tanggung jawab yang lebih besar ini dari pada mereka terutama melakukan
pengelolaan obat untuk pelayanan pasien. Tanggung jawab ini berjalan dibelakang aktifitas
peracikan tradisional yang telah lama berjalan dalam praktek farmasi. Pengawasan rutin proses
distribusi obat-obatan harus ditinggalkan oleh apoteker. Keterlibatan langsung
mereka dalam distribusi obat-obatan akan berkurang karena aktifitas ini akan ditangani oleh
asisten farmasi yang berkualitas. Dengan demikian jumlah pengawasan aktifitas farmasi akan
bertambah. Tanggung jawab apoteker harus diperluas pada
monitoring
kemajuan pengobatan, konsultasi dengan penulis resep dan kerjasama dengan praktisi
kesehatan lainnya demi untuk keperluan pasien. Perubahan kearah asuhan kefarmasian (
pharmaceutical care
) merupakan faktor yang kritis .
Nilai dari pelayanan apoteker dalam hal klinis, dampak ekonomi dan sosial telah dicoba di
dokumentasikan. Klassifikasi pekerjaan farmasi telah dihitung oleh American Pharmacists
Association ( ISFI -nya Amerika ) dalam bahasa yang sederhana .Farmasi telah di praktekkan
mulai dari cara sederhana sampai pada rangkaian baru dan tingkat-tingkat pembuatan
keputusan. Sebagai anggota tim kesehatan, apoteker butuh kecakapan dalam banyak fungsi
yang berbeda-beda. Konsep seven star pharmacist telah diperkenalkan oleh WHO dan FIP
telah mengadopsi dan menguraikan peran itu.
Apoteker mempunyai potensi untuk meningkatkan dampak pengobatan dan kualitas hidup
pasien dalam berbagai sumber dan mempunyai posisi sendiri yang layak dalam sistem
pelayanan kesehatan.. Pendidikan farmasi mempunyai tanggung jawab menghasilkan
sarjana yang kompeten dalam melaksanakan asuhan kefarmasian ( pharma ceutical care ).
Dikutip dari laporan kertas kerja WHO dan FIP, edisi 2006. Alih Bahasa : Azwar Daris
Rabu, 10 Maret 2010
Selasa, 08 Desember 2009
ENDOKARDITIS
A. Definisi
Enterococcus adalah suatu jenis dari bakteri asam laktat dari filum Firmicutes. Para anggota dari jenis ini digolongkan sebagai Group D Streptococcus sampai 1984 ketika analisa DNA yang genomik menunjukkan bahwa suatu penggolongan jenis yang terpisah akan menjadi yang sesuai. Enterococci adalah Gram-positive kokus bahwa sering kali terjadi berdua-dua (diplokokus) atau rantai-rantai pendek dan bersifat sulit untuk menciri dari Streptococci di karakteristik-karakteristik secara fisik sendirian. Dua jenis bersifat organisma-organisma berkenaan hidup bersama umum di dalam isi perut dari manusia: E. faecalis (90-95%) dan E. faecium (5-10%). Enterococci bersifat organisma-organisma anaerob fakultatif, yaitu., mereka tidak memerlukan oksigen untuk metabolisme, tetapi dapat bertahan hidup di dalam lingkungan kaya oksigen. Mereka pada umumnya memperlihatkan hemolisis gamma di agar-agar darah domba-domba. Ada seikat-seikat jarang infeksi/peradangan-infeksi/peradangan dengan jenis yang lain: E. casseliflavus, E.raffinosus.
Enterococcus sp. infection in pulmonary tissue.
Enterococcus adalah bakteri secara normal menemukan di dalam tinja dari orang-orang dan banyak binatang. Dua jenis dari enterococci Enterococcus faecalis dan Enterococcus faecium adakalanya menyebabkan penyakit manusia, infeksi pada saluran air kencing paling umum dan peradangan luka. Infeksi atau peradangan lain, termasuk mereka yang dari aliran darah (bacteraemia), katub jantung (endokarditis), radang selaput otak, sumsum belakang dapat terjadi di dalam pasien-pasien yang sakit di dalam rumah sakit. Enterococci juga sering kali menjajah borok-borok luka terbuka dan kulit. Enterococci di antara bakteri paling bersifat menentang antibiotik umum. Vancomycin-resistant yang pertama enterococcus (VRE) ditemukan dalam 1986. Sejak itu, VRE sudah menjadi suatu masalah yang bertumbuh. Resistan bakteri kepada vancomycin biasanya juga resistan kepada suatu zat pembunuh kuman yang serupa yang disebut teicoplanin, dan sebaliknya.
Endokarditis adalah inflamasi endokardium, membrane yang membatasi ruang jantung dan katub jantung. Endokarditis infeksi menunjuk pada infeksi katub jantung oleh mikroorganisme. Endokarditis sering dikategorikan sebagai akut dan sub akut tergantung pada gambaran klinik. Endokarditis bakteri akut adalah infeksi parah yang berkaitan dengan demam tinggi, toksisitas sistemik, dan kematian dalam beberapa hari sampai minggu bila tidak diterapi. Endokarditis sub akut adalah infeksi yang lebih lambat, umumnya terjadi pada kondisi yang mendahului penyakit katub jantung.
Endokarditis Bakterial adalah penyakit infeksi oleh organisme pada permukaan endokardial atau jaringan endothelial jantung, termasuk katup jantung (baik yang alami atau prostetik), endokardium muralis, korda tendinae atau defek septum. Nama lain dari endokarditis infektif adalah endokarditis bakterial. Lesi yang khas pada endokarditis infektif adalah vegetasi yang terdiri dari trombosit, fibrin, mikroorganisme dan sel-sel radang. Endokarditis infektif biasanya terjadi pada jantungyang telah mengalami kerusakan. Penyakit jantung yang mendahului endokarditis, bisa berupa penyakit jantung bawaan maupun penyakit jantung yang didapat. Dahulu diduga infeksi pada endokard hanya disebabkan oleh bakteri, sehingga disebut endokarditis bakterial. Kemudian ternyata bahwa infeksi bukan saja disebabkan oleh bakteri tetapi dapat juga disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus dan lain-lain. Endokarditis juga bisa terjadi pada endokard dan katup yang sehat, misalnya endokarditis yang terjadi pada penyalahgunaan narkotik intravena dan penyakit yang kronik. Perjalanan penyakit bisa akut atau sub-akut bergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan pasien.
B. Patofisiologi
Sebagian besar pasien dengan endokarditis mempunyai faktor resiko, seperti adanya abnormalitas katub jantung. Sebagian besar penyakit katub jantung struktural yang menyebabkan turbulensi aliran darah akan meningkatkan resiko endokarditis. Beberapa yang terpenting adalah :
1.Adanya katub artifisial (resiko meningkat 400 kali)
2.Endokarditis sebelumnya
3.Gangguan jantung bawaan kompleks cyanotic
4.Sistemik-pulmonal
5.Kardiomiopati hipertropi
6.Penyalahgunaan obat intravena.
Tiga kelompok organisme penyebab terbesar kasus endokarditis adalah streptococci (55%-62%), staphylococci (25%-35%), dan enterocooci (5%-18%).
Faktor resiko terjadinya endokarditis infektif:
a)Cedera pada kulit, lapisan mulut atau gusi (karena mengunyah atau menggosok gigi), yang memungkinkan masuknya sejumlah kecil bakteri ke dalam aliran darah
Gingivitis (infeksi dan peradangan pada gusi), infeksi kecil pada kulit dan infeksi pada bagian tubuh lainnya, bisa bertindak sebagai jalan masuk bakteri ke dalam aliran darah.
b)Pembedahan tertentu, prosedur gigi dan beberapa prosedur medik juga dapat mempermudah bakteri untuk masuk ke dalam aliran darah. Contohnya adalah penggunaan infus intravena untuk memasukkan cairan, makanan atau obat-obatan; sitoskopi (memasukkan selang untuk memeriksa kandung kemih) dan kolonoskopi (memasukkan selang untuk memeriksa usus besar).
c)Katup jantung yang telah mengalami kerusakan pada orang yang memiliki katup jantung normal, sel darah putih pada tubuh akan menghancurkan bakteri-bakteri ini. Tetapi katup jantung yang telah mengalami kerusakan bisa menyebabkan bakteri tersangkut dan berkembangbiak disana.
d)Katup jantung buatan. Pada katup jantung buatan, bakteri juga bisa masuk dan bakteri ini lebih kebal terhadap pemberian antibiotik.
e)Kelainan bawaan atau kelainan yang memungkinkan terjadinya kebocoran darah dari satu bagian jantung ke bagian jantung lainnya.
f)Septikemia
Bakteremia (adanya bakteri di dalam darah) yang sifatnya ringan mungkin tidak segera menimbulkan gejala, tetapi bakteremia bisa berkembang menjadi septikemia.
Septikemia adalah infeksi berat pada darah, yang sering menyebabkan demam tinggi, menggigil, gemetar dan menurunnya tekanan darah.
g)Pemakai obat-obat suntik, karena mereka sering menggunakan jarum atau larutan yang kotor.
C. Manifestasi Klinik
Gambaran klinik pasien infeksi endokarditis sangat bervariasi dan tidak spesifik. Gejala yang mungkin dikeluhkan pasien adalah demam, menggigil, sesak napas, lemah, berkeringat malam, hilang berat badan, dan malaise.
Tanda : demam, bising jantung, dapat terjadi emboli, pembesaran limpa, perubahan-perubahan pada kulit.
Tanpa terapi antimikroba yang tepat, pembedahan endokarditis biasanya fatal. Dengan penanganan yang tepat, perbaikan dapat diharapkan pada sebagian besar pasien. Tanda utama endokarditis adalah bakterimia berkepanjangan karena pertumbuhan bakteri yang menyebar ke aliran darah. Lebih dari 95% pasien kultur darahnya positif bila tiga sampel diambil selama 24 jam. Tranesophageal echocardiography (TEE) penting dalam mengidentifikasi dan melokalisasi lesi katub pada pasien yang diduga mengalami endokarditis. TEE lebih sensitif untuk mengidentifikasi pertumbuhan (90-100%) dibandingkan dengan transthoracic echocardiography(TTE) (58-63%).
a)Endokarditis infektif sub-akut.
Sering pasien tidak mengetahui dengan jelas sejak kapan penyakitnya timbul. Pada beberapa pasien, manifestasi penyakit menjadi jelas sesudah pencabutan gigi, infeksi saluran nafas atau tindakan lain. Gejala umum yang sering ditemukan adalah demam yang berlangsung terus menerus, remitten ataupun intermitten, atau sama sekali tidak teratur. Umumnya puncak demam 38-40 oC dan terjadi pada sore atau malam hari. Sering diikuti menggigil dan kemudian berkeringat banyak. Dapat terjadi anemia yang bersifat progresif dan dapat pula ditemui pembesaran hati dan limpa. Gejala emboli dan vascular berupa ptekie biasanya timbul pada mukosa tenggorok, mata dan juga pada semua bagian kulit. Bagian tengah ptekie biasanya lebih pucat, dan bisa terjadi di retina yang disebut Roth’s spot. Emboli yang timbul sub-ungual jari tangan dan kaki yang berbentuk linier disebut Splinter hemorrhages. Lesi yang spesifik adalah Osler’s nodes yaitu penonjolan kulit berwarna merah jambu atau merah, yang terdapat di bagian dalam jari, otot tenar dan hipotenar, bersifat nyeri. Emboli yang besar dapat tersangkut di otak sehingga bisa menimbulkan hemiplegi, atau gangguan saraf sentral lain atau gangguan psikiatri. Bila tersangkut di arteri koroner dapat menyebabkan infark miokard akut, dan jika di paru – paru dapat terjadi abses paru. Tanda-tanda kelainan jantung penting untuk menentukan adanya kelainan katup atau kelainan bawaan karena sebagian besar endokarditis sub-akut didahului oleh penyakit jantung.
b)Endokarditis infektif akut.
Endokarditis infektif akut lebih sering timbul pada jantung normal, berbeda dengan endokarditis infektif sub-akut yang hampir selalu mengenai jantung abnormal. Gejala timbul mendadak, tanda – tanda infeksi lebih menonjol seperti panas yang tinggi dan mengigil, jarang ditemukan pembesaran limpa, jari tabuh, anemia, ptekie, splinter hemorrhages dan Osler’s nodes. Emboli lebih sering terjadi dan umumnya tersangkut di arteri yang lebih besar sehingga menimbulkan infark. Karena endokarditis infektif akut mengenai jantung yang normal, perubahan pada jantung penting sekali. Timbulnya bising menunjukan kerusakan katup.
D. Terapi
Pendekatan terpenting pada terapi meliputi isolasi bakteri patogen dan dan menetapkan kepekaannya dan diikuti dengan pemberian antimikroba bakterisida I selama periode yang diperpanjang. Untuk beberapa patogen seperti enterocoocus, penggunaan antimikroba kombinasi sinergis (termasuk aminogikosida) penting untuk mendapatkan efek bakterisidal.
a)Terapi Non Farmakologi
Pembedahan adalah tambahan yang penting untuk mengendalikan endokarditis pada beberapa pasien. Pada banyak kasus, valvektomi dan penggantian katub dilakukan untuk menghilangkan jaringan terinfeksi dan memperbaiki fungsi hemodinamika. Indikasi terpenting untuk intervensi pembedahan waktu lalu adalah gagal jantung dan infeksi menetap pada endokarditis sisi kiri.
Enterococcus adalah penyebab 5-18% endokarditis dan bermakna karena :
Tidak satupun antibiotik dapat bersifat bakterisidal terhadapnya.
KHM terhadap penisilin relatif tinggi (1-25 mcg/mL).
Resisten secara intrinsik terhadap semua sefalosporin dan relatif resisten terhadap aminoglikosida.
Kombinasi antibiotik yang aktif terhadap dinding sel seperti penisilin dan vankomisin ditambah aminoglikosida diperlukan untuk membunuh.
Resistensi terhadap semua obat yang ada meningkat.
Endokarditis enterococcus ini umumnya memerlukan terapi dosis tinggi penisilin G atau ampisilin + aminoglikosida selama 4-6 minggu. Sebagai tambahan, isolat yang resisten kuat terhadap aminoglikosida enterococcus penghasil beta-laktamase ( terutama Enterococcus faecium ) meningkat. Bila mikroba ini ditemukan penggunaan vankomisin atau ampisilin – sulbaktam harus dipertimbangkan. Enterococcus resisten terhadap vankomisin khususnya Enterococcus faecium bertambah.
b)Terapi Farmakologi
Antimikroba beta laktam seperti penisilin G, nafsilin dan ampisilin, tetap merupakan obat pilihan untuk streptokokus, stafilokokus, dan enterokokus endokarditis berturut-turut.
Untuk beberapa patogen sperti enterokokus, pengunaan anti mikroba kombinasi sinergis ( termasuk aminoglikosida ) penting untuk mendapatkan efek bakterisidal ( membunuh bakteri ).
Pengobatan terhadap endokarditis enterokokus, digunakan antibiotik yang berspektrum luas, yaitu golongan penisilin dan aminoglikosida. Ampisilin dan amoksisilin merupakan golongan penisilin. Kedua obat tersebut ampuh untuk membunuh enterokokus. Amoksisilin dan ampisilin aktif terhadap kuman Gram-positif dan negatif, kecuali antara lain Pseudomonas, Klebsiella, dan B. Fragilis. Tidak tahan laktamase, maka sering digunakan terkombinasi dengan suatu laktamase bloker, umumnya klavulanat.
Aminoglikosida dihasilkan oleh jenis-jenis fungi Streptomyces dan Micromonospora. Semua senyawa dan turunan semi-sintesisnya mengandung dua atau tiga gula-amino didalam molekulnya yang saling terikat secara glukosidis. Dengan adanya gugusan amino, zat-zat ini bersifat basa lemah dan garam sulfatnya yang digunakan dalam terapi mudah larut dalam air. Spektrum kerjanya luas, aktif untuk membunuh Gram positif dan Gram negatif. Tidak aktif terhadap kuman anaerob. Amikasin memiliki spektrum kerja yang paling luas, sedangkan aktifitas kerja gentamisin dan tobramasin sangat mirip/
Aktivitasnya adalah bakterisida, berdasarkan dayanya untuk menembus dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom di dalam sel. Proses translasi (RNA dan DNA) diganggu sehingga biosintesa proteinnya dikacaukan. Efek ini tidak hanya terjadi pada fase pertumbuhan, melainkan juga bila kuman tidak membelah diri.
Penggunaan. Streptomisin (dan Kanamisin) hanya digunakan parenteral (intra vena, intra arteri, intra kardial) pada tuberkulosa, dikombinasi dengan rifampisin, INH dan pirazinamida. Juga bersama benzilpenisilin berkat efek potensiasi pada infeksi Streptokokus dan Enterokokus.
• Penisilin G kristal 18 – 30 juta unit/24 jam iv continue atau dalam 6 dosis terbagi selama 4 – 6 minggu dengan Gentamicin sulfat 1 mg/kgBB im atau tiap 8 jam selama 4 – 6 minggu.
• Ampisilin 12 gr/24 jam iv continue atau dalam 6 dosis terbagi selama 4 – 6 minggu dengan Gentamicin sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 4 – 6 minggu.
• Vancomicin hidroklorida 30 mg/kgBB/24 jam iv dalam 2 dosis terbagi, tidak > 2gr/24 jam selama 4 – 6 minggu dengan Gentamicin sulfat 1mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 4 – 6 minggu.
Efek samping. Semua aminoglikosida terutama pada penggunaan parenteral dapat mengakibatkan kerusakan pada organ pendengaran dan keseimbangan (ototaksis) terutama pada lansia, akibat kerusakan pada saraf otak kedelapan. Gejalanya berupa vertigo, telinga berdengung (tinnitus), bahkan ketulian yang bersifat irreversibel. Netilmisin adalah kurang ototaksis dibandingkan dengan obat-obat lainnya. Selain itu juga dapat merusak ginjal (nefrotoksis) secara reversibel karena ditimbun dalam selsel tubuler ginjal. Toksisitas untuk telinga dan ginjal tidak tergantung dari tingginya kadar dalam darah, melainkan dari lamanya pemakaian serta jenis aminogikosida. Maka sebaiknya ditakarkan maksimal 1-2 x sehari.
Resistensi dapat terjadi agak pesat akibat terbentuknya enzim yang merombak struktur antibakterikum. Informasi genetis bagi enzim-enzim itu dapat ”ditulari” melalui plasmid, hingga resistensi dapat menjalar ke kuman lain. Streptomisin dan Kanamisin paling sering mengalami resistensi, amikasin paling jarang. Kombinasi dengan antibiotika beta laktam menghambat terjadinya resistensi. Disamping itu, kombinasi demikian juga saling memperkuat kerjanya (potnsiasi).
Kehamilan dan laktasi. Aminoglikosida dapat melintasi plasenta dan merusak ginjal serta menimbulkan ketulian pada bayi. Maka tidak dianjurkan selama kehamilan. Obat-obat ini mencapai air susu ibu dalam jumlah kecil dan pada hakekatnya dapat diberikan selama laktasi.
E. Pencegahan Endokarditis
Profilaksis antimikroba digunakan untuk mencegah endokarditis pada pasien yang dianggap akan pada kondisi beresiko tinggi. Penggunaan antimikroba untuk tujuan ini memerlukan pertimbangan beberapa hal, yaitu tipe pasien yang beresiko; prosedur yang menyebabkan bakterimia; organisme yang diduga menjadi penyebab; farmakokinetik; spektrum; biaya; dan kemudahan pemberian obat yang tersedia. Tujuan profilaksis adalah untuk menurunkan kemungkinan infeksi endokarditis pada individu yang beresiko tinggi yang menjalani prosedur yang menimbulkan bakterimia singkat.
Untuk gigi dan gusi serta struktur mulut yang menyebabkan perdarahan. Viridans streptococci sering menyebabkan bakterimia, sedangkan instrumentasi dan pembedahan saluran cerna dan saluran genital urinaria lebih sering menyebabkan bakterimia enterokokal.
Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Enterococcus. http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Special:RecentChanges&feed=rss. diakses pada tanggal 7 Desember 2009
Anonim. 2009. Definition of Enterococcus. http://www.medicinenet.com/rss/dailyhealth.xml. diakses pada tanggal 7 Desember 2009
Anonim. 2009. Endokarditis Infektif. http://www.medicastore.com. diakses pada tanggal 7 Desember 2009
Hoan, Tjay Tan dan Rahardja, Kirana. 2007. Obat-Obat Penting Edisi VI. Elex Media Komputindo : Jakarta.
Irawan, Panji. 2009. Infektif Endokarditis. http://panji1102.blogspot.com/feeds/posts/default. diakses pada tanggal 7 Desember 2009
Sukandar, Elin Yulinah , dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. ISFI Penerbitan : Jakarta.
Enterococcus adalah suatu jenis dari bakteri asam laktat dari filum Firmicutes. Para anggota dari jenis ini digolongkan sebagai Group D Streptococcus sampai 1984 ketika analisa DNA yang genomik menunjukkan bahwa suatu penggolongan jenis yang terpisah akan menjadi yang sesuai. Enterococci adalah Gram-positive kokus bahwa sering kali terjadi berdua-dua (diplokokus) atau rantai-rantai pendek dan bersifat sulit untuk menciri dari Streptococci di karakteristik-karakteristik secara fisik sendirian. Dua jenis bersifat organisma-organisma berkenaan hidup bersama umum di dalam isi perut dari manusia: E. faecalis (90-95%) dan E. faecium (5-10%). Enterococci bersifat organisma-organisma anaerob fakultatif, yaitu., mereka tidak memerlukan oksigen untuk metabolisme, tetapi dapat bertahan hidup di dalam lingkungan kaya oksigen. Mereka pada umumnya memperlihatkan hemolisis gamma di agar-agar darah domba-domba. Ada seikat-seikat jarang infeksi/peradangan-infeksi/peradangan dengan jenis yang lain: E. casseliflavus, E.raffinosus.
Enterococcus sp. infection in pulmonary tissue.
Enterococcus adalah bakteri secara normal menemukan di dalam tinja dari orang-orang dan banyak binatang. Dua jenis dari enterococci Enterococcus faecalis dan Enterococcus faecium adakalanya menyebabkan penyakit manusia, infeksi pada saluran air kencing paling umum dan peradangan luka. Infeksi atau peradangan lain, termasuk mereka yang dari aliran darah (bacteraemia), katub jantung (endokarditis), radang selaput otak, sumsum belakang dapat terjadi di dalam pasien-pasien yang sakit di dalam rumah sakit. Enterococci juga sering kali menjajah borok-borok luka terbuka dan kulit. Enterococci di antara bakteri paling bersifat menentang antibiotik umum. Vancomycin-resistant yang pertama enterococcus (VRE) ditemukan dalam 1986. Sejak itu, VRE sudah menjadi suatu masalah yang bertumbuh. Resistan bakteri kepada vancomycin biasanya juga resistan kepada suatu zat pembunuh kuman yang serupa yang disebut teicoplanin, dan sebaliknya.
Endokarditis adalah inflamasi endokardium, membrane yang membatasi ruang jantung dan katub jantung. Endokarditis infeksi menunjuk pada infeksi katub jantung oleh mikroorganisme. Endokarditis sering dikategorikan sebagai akut dan sub akut tergantung pada gambaran klinik. Endokarditis bakteri akut adalah infeksi parah yang berkaitan dengan demam tinggi, toksisitas sistemik, dan kematian dalam beberapa hari sampai minggu bila tidak diterapi. Endokarditis sub akut adalah infeksi yang lebih lambat, umumnya terjadi pada kondisi yang mendahului penyakit katub jantung.
Endokarditis Bakterial adalah penyakit infeksi oleh organisme pada permukaan endokardial atau jaringan endothelial jantung, termasuk katup jantung (baik yang alami atau prostetik), endokardium muralis, korda tendinae atau defek septum. Nama lain dari endokarditis infektif adalah endokarditis bakterial. Lesi yang khas pada endokarditis infektif adalah vegetasi yang terdiri dari trombosit, fibrin, mikroorganisme dan sel-sel radang. Endokarditis infektif biasanya terjadi pada jantungyang telah mengalami kerusakan. Penyakit jantung yang mendahului endokarditis, bisa berupa penyakit jantung bawaan maupun penyakit jantung yang didapat. Dahulu diduga infeksi pada endokard hanya disebabkan oleh bakteri, sehingga disebut endokarditis bakterial. Kemudian ternyata bahwa infeksi bukan saja disebabkan oleh bakteri tetapi dapat juga disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus dan lain-lain. Endokarditis juga bisa terjadi pada endokard dan katup yang sehat, misalnya endokarditis yang terjadi pada penyalahgunaan narkotik intravena dan penyakit yang kronik. Perjalanan penyakit bisa akut atau sub-akut bergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan pasien.
B. Patofisiologi
Sebagian besar pasien dengan endokarditis mempunyai faktor resiko, seperti adanya abnormalitas katub jantung. Sebagian besar penyakit katub jantung struktural yang menyebabkan turbulensi aliran darah akan meningkatkan resiko endokarditis. Beberapa yang terpenting adalah :
1.Adanya katub artifisial (resiko meningkat 400 kali)
2.Endokarditis sebelumnya
3.Gangguan jantung bawaan kompleks cyanotic
4.Sistemik-pulmonal
5.Kardiomiopati hipertropi
6.Penyalahgunaan obat intravena.
Tiga kelompok organisme penyebab terbesar kasus endokarditis adalah streptococci (55%-62%), staphylococci (25%-35%), dan enterocooci (5%-18%).
Faktor resiko terjadinya endokarditis infektif:
a)Cedera pada kulit, lapisan mulut atau gusi (karena mengunyah atau menggosok gigi), yang memungkinkan masuknya sejumlah kecil bakteri ke dalam aliran darah
Gingivitis (infeksi dan peradangan pada gusi), infeksi kecil pada kulit dan infeksi pada bagian tubuh lainnya, bisa bertindak sebagai jalan masuk bakteri ke dalam aliran darah.
b)Pembedahan tertentu, prosedur gigi dan beberapa prosedur medik juga dapat mempermudah bakteri untuk masuk ke dalam aliran darah. Contohnya adalah penggunaan infus intravena untuk memasukkan cairan, makanan atau obat-obatan; sitoskopi (memasukkan selang untuk memeriksa kandung kemih) dan kolonoskopi (memasukkan selang untuk memeriksa usus besar).
c)Katup jantung yang telah mengalami kerusakan pada orang yang memiliki katup jantung normal, sel darah putih pada tubuh akan menghancurkan bakteri-bakteri ini. Tetapi katup jantung yang telah mengalami kerusakan bisa menyebabkan bakteri tersangkut dan berkembangbiak disana.
d)Katup jantung buatan. Pada katup jantung buatan, bakteri juga bisa masuk dan bakteri ini lebih kebal terhadap pemberian antibiotik.
e)Kelainan bawaan atau kelainan yang memungkinkan terjadinya kebocoran darah dari satu bagian jantung ke bagian jantung lainnya.
f)Septikemia
Bakteremia (adanya bakteri di dalam darah) yang sifatnya ringan mungkin tidak segera menimbulkan gejala, tetapi bakteremia bisa berkembang menjadi septikemia.
Septikemia adalah infeksi berat pada darah, yang sering menyebabkan demam tinggi, menggigil, gemetar dan menurunnya tekanan darah.
g)Pemakai obat-obat suntik, karena mereka sering menggunakan jarum atau larutan yang kotor.
C. Manifestasi Klinik
Gambaran klinik pasien infeksi endokarditis sangat bervariasi dan tidak spesifik. Gejala yang mungkin dikeluhkan pasien adalah demam, menggigil, sesak napas, lemah, berkeringat malam, hilang berat badan, dan malaise.
Tanda : demam, bising jantung, dapat terjadi emboli, pembesaran limpa, perubahan-perubahan pada kulit.
Tanpa terapi antimikroba yang tepat, pembedahan endokarditis biasanya fatal. Dengan penanganan yang tepat, perbaikan dapat diharapkan pada sebagian besar pasien. Tanda utama endokarditis adalah bakterimia berkepanjangan karena pertumbuhan bakteri yang menyebar ke aliran darah. Lebih dari 95% pasien kultur darahnya positif bila tiga sampel diambil selama 24 jam. Tranesophageal echocardiography (TEE) penting dalam mengidentifikasi dan melokalisasi lesi katub pada pasien yang diduga mengalami endokarditis. TEE lebih sensitif untuk mengidentifikasi pertumbuhan (90-100%) dibandingkan dengan transthoracic echocardiography(TTE) (58-63%).
a)Endokarditis infektif sub-akut.
Sering pasien tidak mengetahui dengan jelas sejak kapan penyakitnya timbul. Pada beberapa pasien, manifestasi penyakit menjadi jelas sesudah pencabutan gigi, infeksi saluran nafas atau tindakan lain. Gejala umum yang sering ditemukan adalah demam yang berlangsung terus menerus, remitten ataupun intermitten, atau sama sekali tidak teratur. Umumnya puncak demam 38-40 oC dan terjadi pada sore atau malam hari. Sering diikuti menggigil dan kemudian berkeringat banyak. Dapat terjadi anemia yang bersifat progresif dan dapat pula ditemui pembesaran hati dan limpa. Gejala emboli dan vascular berupa ptekie biasanya timbul pada mukosa tenggorok, mata dan juga pada semua bagian kulit. Bagian tengah ptekie biasanya lebih pucat, dan bisa terjadi di retina yang disebut Roth’s spot. Emboli yang timbul sub-ungual jari tangan dan kaki yang berbentuk linier disebut Splinter hemorrhages. Lesi yang spesifik adalah Osler’s nodes yaitu penonjolan kulit berwarna merah jambu atau merah, yang terdapat di bagian dalam jari, otot tenar dan hipotenar, bersifat nyeri. Emboli yang besar dapat tersangkut di otak sehingga bisa menimbulkan hemiplegi, atau gangguan saraf sentral lain atau gangguan psikiatri. Bila tersangkut di arteri koroner dapat menyebabkan infark miokard akut, dan jika di paru – paru dapat terjadi abses paru. Tanda-tanda kelainan jantung penting untuk menentukan adanya kelainan katup atau kelainan bawaan karena sebagian besar endokarditis sub-akut didahului oleh penyakit jantung.
b)Endokarditis infektif akut.
Endokarditis infektif akut lebih sering timbul pada jantung normal, berbeda dengan endokarditis infektif sub-akut yang hampir selalu mengenai jantung abnormal. Gejala timbul mendadak, tanda – tanda infeksi lebih menonjol seperti panas yang tinggi dan mengigil, jarang ditemukan pembesaran limpa, jari tabuh, anemia, ptekie, splinter hemorrhages dan Osler’s nodes. Emboli lebih sering terjadi dan umumnya tersangkut di arteri yang lebih besar sehingga menimbulkan infark. Karena endokarditis infektif akut mengenai jantung yang normal, perubahan pada jantung penting sekali. Timbulnya bising menunjukan kerusakan katup.
D. Terapi
Pendekatan terpenting pada terapi meliputi isolasi bakteri patogen dan dan menetapkan kepekaannya dan diikuti dengan pemberian antimikroba bakterisida I selama periode yang diperpanjang. Untuk beberapa patogen seperti enterocoocus, penggunaan antimikroba kombinasi sinergis (termasuk aminogikosida) penting untuk mendapatkan efek bakterisidal.
a)Terapi Non Farmakologi
Pembedahan adalah tambahan yang penting untuk mengendalikan endokarditis pada beberapa pasien. Pada banyak kasus, valvektomi dan penggantian katub dilakukan untuk menghilangkan jaringan terinfeksi dan memperbaiki fungsi hemodinamika. Indikasi terpenting untuk intervensi pembedahan waktu lalu adalah gagal jantung dan infeksi menetap pada endokarditis sisi kiri.
Enterococcus adalah penyebab 5-18% endokarditis dan bermakna karena :
Tidak satupun antibiotik dapat bersifat bakterisidal terhadapnya.
KHM terhadap penisilin relatif tinggi (1-25 mcg/mL).
Resisten secara intrinsik terhadap semua sefalosporin dan relatif resisten terhadap aminoglikosida.
Kombinasi antibiotik yang aktif terhadap dinding sel seperti penisilin dan vankomisin ditambah aminoglikosida diperlukan untuk membunuh.
Resistensi terhadap semua obat yang ada meningkat.
Endokarditis enterococcus ini umumnya memerlukan terapi dosis tinggi penisilin G atau ampisilin + aminoglikosida selama 4-6 minggu. Sebagai tambahan, isolat yang resisten kuat terhadap aminoglikosida enterococcus penghasil beta-laktamase ( terutama Enterococcus faecium ) meningkat. Bila mikroba ini ditemukan penggunaan vankomisin atau ampisilin – sulbaktam harus dipertimbangkan. Enterococcus resisten terhadap vankomisin khususnya Enterococcus faecium bertambah.
b)Terapi Farmakologi
Antimikroba beta laktam seperti penisilin G, nafsilin dan ampisilin, tetap merupakan obat pilihan untuk streptokokus, stafilokokus, dan enterokokus endokarditis berturut-turut.
Untuk beberapa patogen sperti enterokokus, pengunaan anti mikroba kombinasi sinergis ( termasuk aminoglikosida ) penting untuk mendapatkan efek bakterisidal ( membunuh bakteri ).
Pengobatan terhadap endokarditis enterokokus, digunakan antibiotik yang berspektrum luas, yaitu golongan penisilin dan aminoglikosida. Ampisilin dan amoksisilin merupakan golongan penisilin. Kedua obat tersebut ampuh untuk membunuh enterokokus. Amoksisilin dan ampisilin aktif terhadap kuman Gram-positif dan negatif, kecuali antara lain Pseudomonas, Klebsiella, dan B. Fragilis. Tidak tahan laktamase, maka sering digunakan terkombinasi dengan suatu laktamase bloker, umumnya klavulanat.
Aminoglikosida dihasilkan oleh jenis-jenis fungi Streptomyces dan Micromonospora. Semua senyawa dan turunan semi-sintesisnya mengandung dua atau tiga gula-amino didalam molekulnya yang saling terikat secara glukosidis. Dengan adanya gugusan amino, zat-zat ini bersifat basa lemah dan garam sulfatnya yang digunakan dalam terapi mudah larut dalam air. Spektrum kerjanya luas, aktif untuk membunuh Gram positif dan Gram negatif. Tidak aktif terhadap kuman anaerob. Amikasin memiliki spektrum kerja yang paling luas, sedangkan aktifitas kerja gentamisin dan tobramasin sangat mirip/
Aktivitasnya adalah bakterisida, berdasarkan dayanya untuk menembus dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom di dalam sel. Proses translasi (RNA dan DNA) diganggu sehingga biosintesa proteinnya dikacaukan. Efek ini tidak hanya terjadi pada fase pertumbuhan, melainkan juga bila kuman tidak membelah diri.
Penggunaan. Streptomisin (dan Kanamisin) hanya digunakan parenteral (intra vena, intra arteri, intra kardial) pada tuberkulosa, dikombinasi dengan rifampisin, INH dan pirazinamida. Juga bersama benzilpenisilin berkat efek potensiasi pada infeksi Streptokokus dan Enterokokus.
• Penisilin G kristal 18 – 30 juta unit/24 jam iv continue atau dalam 6 dosis terbagi selama 4 – 6 minggu dengan Gentamicin sulfat 1 mg/kgBB im atau tiap 8 jam selama 4 – 6 minggu.
• Ampisilin 12 gr/24 jam iv continue atau dalam 6 dosis terbagi selama 4 – 6 minggu dengan Gentamicin sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 4 – 6 minggu.
• Vancomicin hidroklorida 30 mg/kgBB/24 jam iv dalam 2 dosis terbagi, tidak > 2gr/24 jam selama 4 – 6 minggu dengan Gentamicin sulfat 1mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 4 – 6 minggu.
Efek samping. Semua aminoglikosida terutama pada penggunaan parenteral dapat mengakibatkan kerusakan pada organ pendengaran dan keseimbangan (ototaksis) terutama pada lansia, akibat kerusakan pada saraf otak kedelapan. Gejalanya berupa vertigo, telinga berdengung (tinnitus), bahkan ketulian yang bersifat irreversibel. Netilmisin adalah kurang ototaksis dibandingkan dengan obat-obat lainnya. Selain itu juga dapat merusak ginjal (nefrotoksis) secara reversibel karena ditimbun dalam selsel tubuler ginjal. Toksisitas untuk telinga dan ginjal tidak tergantung dari tingginya kadar dalam darah, melainkan dari lamanya pemakaian serta jenis aminogikosida. Maka sebaiknya ditakarkan maksimal 1-2 x sehari.
Resistensi dapat terjadi agak pesat akibat terbentuknya enzim yang merombak struktur antibakterikum. Informasi genetis bagi enzim-enzim itu dapat ”ditulari” melalui plasmid, hingga resistensi dapat menjalar ke kuman lain. Streptomisin dan Kanamisin paling sering mengalami resistensi, amikasin paling jarang. Kombinasi dengan antibiotika beta laktam menghambat terjadinya resistensi. Disamping itu, kombinasi demikian juga saling memperkuat kerjanya (potnsiasi).
Kehamilan dan laktasi. Aminoglikosida dapat melintasi plasenta dan merusak ginjal serta menimbulkan ketulian pada bayi. Maka tidak dianjurkan selama kehamilan. Obat-obat ini mencapai air susu ibu dalam jumlah kecil dan pada hakekatnya dapat diberikan selama laktasi.
E. Pencegahan Endokarditis
Profilaksis antimikroba digunakan untuk mencegah endokarditis pada pasien yang dianggap akan pada kondisi beresiko tinggi. Penggunaan antimikroba untuk tujuan ini memerlukan pertimbangan beberapa hal, yaitu tipe pasien yang beresiko; prosedur yang menyebabkan bakterimia; organisme yang diduga menjadi penyebab; farmakokinetik; spektrum; biaya; dan kemudahan pemberian obat yang tersedia. Tujuan profilaksis adalah untuk menurunkan kemungkinan infeksi endokarditis pada individu yang beresiko tinggi yang menjalani prosedur yang menimbulkan bakterimia singkat.
Untuk gigi dan gusi serta struktur mulut yang menyebabkan perdarahan. Viridans streptococci sering menyebabkan bakterimia, sedangkan instrumentasi dan pembedahan saluran cerna dan saluran genital urinaria lebih sering menyebabkan bakterimia enterokokal.
Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Enterococcus. http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Special:RecentChanges&feed=rss. diakses pada tanggal 7 Desember 2009
Anonim. 2009. Definition of Enterococcus. http://www.medicinenet.com/rss/dailyhealth.xml. diakses pada tanggal 7 Desember 2009
Anonim. 2009. Endokarditis Infektif. http://www.medicastore.com. diakses pada tanggal 7 Desember 2009
Hoan, Tjay Tan dan Rahardja, Kirana. 2007. Obat-Obat Penting Edisi VI. Elex Media Komputindo : Jakarta.
Irawan, Panji. 2009. Infektif Endokarditis. http://panji1102.blogspot.com/feeds/posts/default. diakses pada tanggal 7 Desember 2009
Sukandar, Elin Yulinah , dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. ISFI Penerbitan : Jakarta.
Sabtu, 14 Maret 2009
Anatomi Jantung dan Pembuluh Darah
ANATOMI JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
Sistem sirkulasi memiliki 3 komponen:
1. Jantung yang berfungsi sebagai pompa yang melakukan tekanan terhadap darah agar timbul gradien dan darah dapat mengalir ke seluruh tubuh
2. Pembuluh darah yang berfungsi sebagai saluran untuk mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan mengembalikannya kembali ke jantung
3. Darah yang berfungsi sebagai medium transportasi dimana darah akan membawa oksigen dan nutrisi
Darah berjalan melalui sistim sirkulasi ke dan dari jantung melalui 2 lengkung vaskuler (pembuluh darah) yang terpisah. Sirkulasi paru terdiri atas lengkung tertutup pembuluh darah yang mengangkut darah antara jantung dan paru. Sirkulasi sistemik terdiri atas pembuluh darah yang mengangkut darah antara jantung dan sistim organ.
Walaupun secara anatomis jantung adalah satu organ, sisi kanan dan kiri jantung berfungsi sebagai dua pompa yang terpisah. Jantung terbagi atas separuh kanan dan kiri serta memiliki empat ruang, bilik bagian atas dan bawah di kedua belahannya. Bilik bagian atas disebut dengan atrium yang menerima darah yang kembali ke jantung dan memindahkannya ke bilik bawah, yaitu ventrikel yang berfungsi memompa darah dari jantung.
Pembuluh yang mengembalikan darah dari jaringan ke atrium disebut dengan vena, dan pembuluh yang mengangkut darah menjauhi ventrikel dan menuju ke jaringan disebut dengan arteri. Kedua belahan jantung dipisahkan oleh septum atau sekat, yaitu suatu partisi otot kontinu yang mencegah percampuran darah dari kedua sisi jantung. Pemisahan ini sangat penting karena separuh jantung janan menerima dan memompa darah beroksigen rendah sedangkan sisi jantung sebelah kiri memompa darah beroksigen tinggi.
Perjalanan Darah dalam Sistim Sirkulasi Jantung berfungsi sebagai pompa ganda. Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik (dari seluruh tubuh) masuk ke atrium kanan melalui vena besar yang dikenal sebagai vena kava. Darah yang masuk ke atrium kanan berasal dari jaringan tubuh, telah diambil O2-nya dan ditambahi dengan CO2. Darah yang miskin akan oksigen tersebut mengalir dari atrium kanan melalui katup ke ventrikel kanan, yang memompanya keluar melalui arteri pulmonalis ke paru. Dengan demikian, sisi kanan jantung memompa darah yang miskin oksigen ke sirkulasi paru. Di dalam paru, darah akan kehilangan CO2-nya dan menyerap O2 segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis.
Darah kaya oksigen yang kembali ke atrium kiri ini kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri, bilik pompa yang memompa atau mendorong darah ke semus sistim tubuh kecuali paru. Jadi, sisi kiri jantung memompa darah yang kaya akan O2 ke dalam sirkulasi sistemik. Arteri besar yang membawa darah menjauhi ventrikel kiri adalah aorta. Aorta bercabang menjadi arteri besar dan mendarahi berbagai jaringan tubuh.
Sirkulasi sistemik memompa darah ke berbagai organ, yaitu ginjal, otot, otak, dan semuanya. Jadi darah yang keluar dari ventrikel kiri tersebar sehingga masing-masing bagian tubuh menerima darah segar. Darah arteri yang sama tidak mengalir dari jaringan ke jaringan. Jaringan akan mengambil O2 dari darah dan menggunakannya untuk menghasilkan energi. Dalam prosesnya, sel-sel jaringan akan membentuk CO2 sebagai produk buangan atau produk sisa yang ditambahkan ke dalam darah. Darah yang sekarang kekurangan O2 dan mengandung CO2 berlebih akan kembali ke sisi kanan jantung. Selesailah satu siklus dan terus menerus berulang siklus yang sama setiap saat.
Kedua sisi jantung akan memompa darah dalam jumlah yang sama. Volume darah yang beroksigen rendah yang dipompa ke paru oleh sisi jantung kanan memiliki volume yang sama dengan darah beroksigen tinggi yang dipompa ke jaringan oleh sisi kiri jantung.
Sirkulasi paru adalah sistim yang memiliki tekanan dan resistensi rendah, sedangkan sirkulasi sistemik adalah sistim yang memiliki tekanan dan resistensi yang tinggi. Oleh karena itu, walaupun sisi kiri dan kanan jantung memompa darah dalam jumlah yang sama, sisi kiri melakukan kerja yang lebih besar karena ia memompa volume darah yang sama ke dalam sistim dengan resistensi tinggi. Dengan demikian otot jantung di sisi kiri jauh lebih tebal daripada otot di sisi kanan sehingga sisi kiri adalah pompa yang lebih kuat.
Darah mengalir melalui jantung dalam satu arah tetap yaitu dari vena ke atrium ke ventrikel ke arteri. Adanya empat katup jantung satu arah memastikan darah mengalir satu arah. Katup jantung terletak sedemikian rupa sehingga mereke membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan gradien tekanan. Gradien tekanan ke arah depan mendorong katup terbuka sedangkan gradien tekanan ke arah belakang mendorong katup menutup.
Dua katup jantung yaitu katup atrioventrikel (AV) terletak di antara atrim dan ventrikel kanan dan kiri. Katup AV kanan disebut dengan katup trikuspid karena memiliki tiga daun katup sedangkan katup AV kiri sering disebut dengan katup bikuspid atau katup mitral karena terdiri atas dua daun katup. Katup-katup ini mengijinkan darah mengalir dari atrium ke ventrikel selama pengisian ventrikel (ketika tekanan atrium lebih rendah dari tekanan ventrikel), namun secara alami mencegah aliran darah kembali dari ventrikel ke atrium ketika pengosongan ventrikel atau ventrikel sedang memompa.
Dua katup jantung lainnya yaitu katup aorta dan katup pulmonalis terletak pada sambungan dimana tempat arteri besar keluar dari ventrikel. Keduanya disebut dengan katup semilunaris karena terdiri dari tiga daun katup yang masing-masing mirip dengan kantung mirip bulan-separuh. Katup ini akan terbuka setiap kali tekanan di ventrikel kanan dan kiri melebihi tekanan di aorta dan arteri pulmonalis selama ventrikel berkontraksi dan mengosongkan isinya. Katup ini akan tertutup apabila ventrikel melemas dan tekanan ventrikel turun di bawah tekanan aorta dan arteri pulmonalis. Katup yang tertutup mencegah aliran balik dari arteri ke ventrikel.
Walaupun tidak terdapat katup antara atrium dan vena namun hal ini tidak menjadi masalah. Hal ini disebabkan oleh dua hal, yaitu karena tekanan atrium biasanya tidak jauh lebih besar dari tekanan vena serta tempat vena kava memasuki atrium biasanya tertekan selama atrium berkontraksi.
Proses Mekanis Siklus Jantung
Jantung secara berselang-seling berkontraksi untuk mengosongkan isi jantung dan berelaksasi untuk mengisi darah. Siklus jantung terdiri atas periode sistol (kontraksi dan pengosongan isi) dan diastol (relaksasi dan pengisian jantung). Atrium dan ventrikel mengalami siklus sistol dan diastol terpisah. Kontraksi terjadi akibat penyebaran eksitasi (mekanisme listrik jantung) ke seluruh jantung. Sedangkan relaksasi timbul setelah repolarisasi atau tahapan relaksasi otot jantung.
Kontraksi sel otot jantung untuk memompa darah dicetuskan oleh potensial aksi yang menyebar melalui membran-membran sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama akibat potensial aksi yang ditimbulkannya sendiri. Hal ini disebabkan karena jantung memiliki mekanisme aliran listrik yang dicetuskannya sendiri guna berkontraksi atau memompa dan berelaksasi.
Potensial aksi ini dicetuskan oleh nodus-nodus pacemaker yang terdapat di jantung dan dipengaruhi oleh beberapa jenis elektrolit seperti K+, Na+, dan Ca++. Gangguan terhadap kadar elektrolit tersebut di dalam tubuh dapat mengganggu mekanisme aliran listrik jantung.
Arus listrik yang dihasilkan oleh otot jantung menyebar ke jaringan di sekitar jantung dan dihantarkan melalui cairan-cairan tubuh. Sebagian kecil aktivitas listrik ini mencapai permukaan tubuh dan dapat dideteksi menggunakan alat khusus. Rekaman aliran listrik jantung disebut dengan elektrokardiogram atau EKG. EKG adalah rekaman mengenai aktivitas listrik di cairan tubuh yang dirangsang oleh aliran listrik jantung yang mencapai permukaan tubuh. Jadi EKG bukanlah rekaman langsung aktivitas listrik jantung yang sebenarnya.
Berbagai komponen pada rekaman EKG dapat dikorelasikan dengan berbagai proses spesifik di jantung. EKG dapat digunakan untuk mendiagnosis kecepatan denyut jantung yang abnormal, gangguan irama jantung, serta kerusakan otot jantung. Hal ini disebabkan karena aktivitas listrik akan memicu aktivitas mekanis sehingga kelainan pola listrik biasanya akan disertai dengan kelainan mekanis atau otot jantung sendiri.
Sirkulasi vetal
Pada bayi yang baru lahir organ seperti paru-paru dan hati tidak berfungsi namun setelah mengalami pertumbuhan organ paru-paru dan jantung akan berfungsi.
PEMBULUH DARAH
Struktur Dasar Umum
• Tiga lapisan kecuali kapiler dan venule
• Tunica intima
– Endothelium
• Tunica media
– Vasoconstriksi
– Vasodilatasi
• Tunica adventitia
– Gabung dg jaringan ikat diseliling pembuluh darah
Darah sebagian besar tersimpan di vena kecil dan vena sekitar 42%, kemudian 20% di system vena , 12% di sirkulasi pulmonary. , 10% di jantung dan system arteri serta 5 % di pembuluh kapiler.
Bagan Aliran Darah
Dari vena cava Kemudian ke jantung kemudian mengalir ke arteri elastis lalu ke arteri penyebar lalu ke arteriole kemudian ke kapiler sinusoid kemudian ke venule lalu ke vena dan kembali lagi ke vena cava.
Sistem Sirkulasi
Sirkulasi Perifer : Vena
• Kembalikan darah dari tubuh ke atrium kanan
• Vena Major
– Coronary sinus (heart)
– Superior vena cava (kepala, leher, thorax, anggota gerak atas)
– Inferior vena cava (abdomen, pelvis, anggota gerak bawah)
• Tipe vena
– Superficialis, profunda, sinus
Sirkulasi Perifer : Arteri
• Aorta
- Dari seluruh arteri
- Pars Asenden, desenden, torasika, abdominal
• Arteri cororla
- Supplai jantung.
Perbedaan vena dan arteri
Pembeda Vena Arteri
Tunica Media Kecil Besar
Diameter Besar Kecil
Valve / Katub Penya Tidak Punya
Katub Vena (valve)
• Banyak katub pada vena sedang terutama ekstremitas inferior untuk mencegah aliran darah kembali ke jantung akibat gaya berat badan.
• Berupa tonjolan tunika intima ke dalam lumen dan saling berhadapan. Katub disusun oleh jaringan ikat elastis yang permukaannya di lapisi oleh endotel. Antara katub dengan dinding vena sebelah distal katub membentuk suatu pelebaran akibat dinding di sini tipis yang disebut sinus.
• Pada vena superficialis jaringan penyangga sgt kurang sehingga sinus makin melebar membentuk varises. Varises akan bertambah lebar bila terjadi sumbatan di bagian distal
Sistem sirkulasi memiliki 3 komponen:
1. Jantung yang berfungsi sebagai pompa yang melakukan tekanan terhadap darah agar timbul gradien dan darah dapat mengalir ke seluruh tubuh
2. Pembuluh darah yang berfungsi sebagai saluran untuk mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan mengembalikannya kembali ke jantung
3. Darah yang berfungsi sebagai medium transportasi dimana darah akan membawa oksigen dan nutrisi
Darah berjalan melalui sistim sirkulasi ke dan dari jantung melalui 2 lengkung vaskuler (pembuluh darah) yang terpisah. Sirkulasi paru terdiri atas lengkung tertutup pembuluh darah yang mengangkut darah antara jantung dan paru. Sirkulasi sistemik terdiri atas pembuluh darah yang mengangkut darah antara jantung dan sistim organ.
Walaupun secara anatomis jantung adalah satu organ, sisi kanan dan kiri jantung berfungsi sebagai dua pompa yang terpisah. Jantung terbagi atas separuh kanan dan kiri serta memiliki empat ruang, bilik bagian atas dan bawah di kedua belahannya. Bilik bagian atas disebut dengan atrium yang menerima darah yang kembali ke jantung dan memindahkannya ke bilik bawah, yaitu ventrikel yang berfungsi memompa darah dari jantung.
Pembuluh yang mengembalikan darah dari jaringan ke atrium disebut dengan vena, dan pembuluh yang mengangkut darah menjauhi ventrikel dan menuju ke jaringan disebut dengan arteri. Kedua belahan jantung dipisahkan oleh septum atau sekat, yaitu suatu partisi otot kontinu yang mencegah percampuran darah dari kedua sisi jantung. Pemisahan ini sangat penting karena separuh jantung janan menerima dan memompa darah beroksigen rendah sedangkan sisi jantung sebelah kiri memompa darah beroksigen tinggi.
Perjalanan Darah dalam Sistim Sirkulasi Jantung berfungsi sebagai pompa ganda. Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik (dari seluruh tubuh) masuk ke atrium kanan melalui vena besar yang dikenal sebagai vena kava. Darah yang masuk ke atrium kanan berasal dari jaringan tubuh, telah diambil O2-nya dan ditambahi dengan CO2. Darah yang miskin akan oksigen tersebut mengalir dari atrium kanan melalui katup ke ventrikel kanan, yang memompanya keluar melalui arteri pulmonalis ke paru. Dengan demikian, sisi kanan jantung memompa darah yang miskin oksigen ke sirkulasi paru. Di dalam paru, darah akan kehilangan CO2-nya dan menyerap O2 segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis.
Darah kaya oksigen yang kembali ke atrium kiri ini kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri, bilik pompa yang memompa atau mendorong darah ke semus sistim tubuh kecuali paru. Jadi, sisi kiri jantung memompa darah yang kaya akan O2 ke dalam sirkulasi sistemik. Arteri besar yang membawa darah menjauhi ventrikel kiri adalah aorta. Aorta bercabang menjadi arteri besar dan mendarahi berbagai jaringan tubuh.
Sirkulasi sistemik memompa darah ke berbagai organ, yaitu ginjal, otot, otak, dan semuanya. Jadi darah yang keluar dari ventrikel kiri tersebar sehingga masing-masing bagian tubuh menerima darah segar. Darah arteri yang sama tidak mengalir dari jaringan ke jaringan. Jaringan akan mengambil O2 dari darah dan menggunakannya untuk menghasilkan energi. Dalam prosesnya, sel-sel jaringan akan membentuk CO2 sebagai produk buangan atau produk sisa yang ditambahkan ke dalam darah. Darah yang sekarang kekurangan O2 dan mengandung CO2 berlebih akan kembali ke sisi kanan jantung. Selesailah satu siklus dan terus menerus berulang siklus yang sama setiap saat.
Kedua sisi jantung akan memompa darah dalam jumlah yang sama. Volume darah yang beroksigen rendah yang dipompa ke paru oleh sisi jantung kanan memiliki volume yang sama dengan darah beroksigen tinggi yang dipompa ke jaringan oleh sisi kiri jantung.
Sirkulasi paru adalah sistim yang memiliki tekanan dan resistensi rendah, sedangkan sirkulasi sistemik adalah sistim yang memiliki tekanan dan resistensi yang tinggi. Oleh karena itu, walaupun sisi kiri dan kanan jantung memompa darah dalam jumlah yang sama, sisi kiri melakukan kerja yang lebih besar karena ia memompa volume darah yang sama ke dalam sistim dengan resistensi tinggi. Dengan demikian otot jantung di sisi kiri jauh lebih tebal daripada otot di sisi kanan sehingga sisi kiri adalah pompa yang lebih kuat.
Darah mengalir melalui jantung dalam satu arah tetap yaitu dari vena ke atrium ke ventrikel ke arteri. Adanya empat katup jantung satu arah memastikan darah mengalir satu arah. Katup jantung terletak sedemikian rupa sehingga mereke membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan gradien tekanan. Gradien tekanan ke arah depan mendorong katup terbuka sedangkan gradien tekanan ke arah belakang mendorong katup menutup.
Dua katup jantung yaitu katup atrioventrikel (AV) terletak di antara atrim dan ventrikel kanan dan kiri. Katup AV kanan disebut dengan katup trikuspid karena memiliki tiga daun katup sedangkan katup AV kiri sering disebut dengan katup bikuspid atau katup mitral karena terdiri atas dua daun katup. Katup-katup ini mengijinkan darah mengalir dari atrium ke ventrikel selama pengisian ventrikel (ketika tekanan atrium lebih rendah dari tekanan ventrikel), namun secara alami mencegah aliran darah kembali dari ventrikel ke atrium ketika pengosongan ventrikel atau ventrikel sedang memompa.
Dua katup jantung lainnya yaitu katup aorta dan katup pulmonalis terletak pada sambungan dimana tempat arteri besar keluar dari ventrikel. Keduanya disebut dengan katup semilunaris karena terdiri dari tiga daun katup yang masing-masing mirip dengan kantung mirip bulan-separuh. Katup ini akan terbuka setiap kali tekanan di ventrikel kanan dan kiri melebihi tekanan di aorta dan arteri pulmonalis selama ventrikel berkontraksi dan mengosongkan isinya. Katup ini akan tertutup apabila ventrikel melemas dan tekanan ventrikel turun di bawah tekanan aorta dan arteri pulmonalis. Katup yang tertutup mencegah aliran balik dari arteri ke ventrikel.
Walaupun tidak terdapat katup antara atrium dan vena namun hal ini tidak menjadi masalah. Hal ini disebabkan oleh dua hal, yaitu karena tekanan atrium biasanya tidak jauh lebih besar dari tekanan vena serta tempat vena kava memasuki atrium biasanya tertekan selama atrium berkontraksi.
Proses Mekanis Siklus Jantung
Jantung secara berselang-seling berkontraksi untuk mengosongkan isi jantung dan berelaksasi untuk mengisi darah. Siklus jantung terdiri atas periode sistol (kontraksi dan pengosongan isi) dan diastol (relaksasi dan pengisian jantung). Atrium dan ventrikel mengalami siklus sistol dan diastol terpisah. Kontraksi terjadi akibat penyebaran eksitasi (mekanisme listrik jantung) ke seluruh jantung. Sedangkan relaksasi timbul setelah repolarisasi atau tahapan relaksasi otot jantung.
Kontraksi sel otot jantung untuk memompa darah dicetuskan oleh potensial aksi yang menyebar melalui membran-membran sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama akibat potensial aksi yang ditimbulkannya sendiri. Hal ini disebabkan karena jantung memiliki mekanisme aliran listrik yang dicetuskannya sendiri guna berkontraksi atau memompa dan berelaksasi.
Potensial aksi ini dicetuskan oleh nodus-nodus pacemaker yang terdapat di jantung dan dipengaruhi oleh beberapa jenis elektrolit seperti K+, Na+, dan Ca++. Gangguan terhadap kadar elektrolit tersebut di dalam tubuh dapat mengganggu mekanisme aliran listrik jantung.
Arus listrik yang dihasilkan oleh otot jantung menyebar ke jaringan di sekitar jantung dan dihantarkan melalui cairan-cairan tubuh. Sebagian kecil aktivitas listrik ini mencapai permukaan tubuh dan dapat dideteksi menggunakan alat khusus. Rekaman aliran listrik jantung disebut dengan elektrokardiogram atau EKG. EKG adalah rekaman mengenai aktivitas listrik di cairan tubuh yang dirangsang oleh aliran listrik jantung yang mencapai permukaan tubuh. Jadi EKG bukanlah rekaman langsung aktivitas listrik jantung yang sebenarnya.
Berbagai komponen pada rekaman EKG dapat dikorelasikan dengan berbagai proses spesifik di jantung. EKG dapat digunakan untuk mendiagnosis kecepatan denyut jantung yang abnormal, gangguan irama jantung, serta kerusakan otot jantung. Hal ini disebabkan karena aktivitas listrik akan memicu aktivitas mekanis sehingga kelainan pola listrik biasanya akan disertai dengan kelainan mekanis atau otot jantung sendiri.
Sirkulasi vetal
Pada bayi yang baru lahir organ seperti paru-paru dan hati tidak berfungsi namun setelah mengalami pertumbuhan organ paru-paru dan jantung akan berfungsi.
PEMBULUH DARAH
Struktur Dasar Umum
• Tiga lapisan kecuali kapiler dan venule
• Tunica intima
– Endothelium
• Tunica media
– Vasoconstriksi
– Vasodilatasi
• Tunica adventitia
– Gabung dg jaringan ikat diseliling pembuluh darah
Darah sebagian besar tersimpan di vena kecil dan vena sekitar 42%, kemudian 20% di system vena , 12% di sirkulasi pulmonary. , 10% di jantung dan system arteri serta 5 % di pembuluh kapiler.
Bagan Aliran Darah
Dari vena cava Kemudian ke jantung kemudian mengalir ke arteri elastis lalu ke arteri penyebar lalu ke arteriole kemudian ke kapiler sinusoid kemudian ke venule lalu ke vena dan kembali lagi ke vena cava.
Sistem Sirkulasi
Sirkulasi Perifer : Vena
• Kembalikan darah dari tubuh ke atrium kanan
• Vena Major
– Coronary sinus (heart)
– Superior vena cava (kepala, leher, thorax, anggota gerak atas)
– Inferior vena cava (abdomen, pelvis, anggota gerak bawah)
• Tipe vena
– Superficialis, profunda, sinus
Sirkulasi Perifer : Arteri
• Aorta
- Dari seluruh arteri
- Pars Asenden, desenden, torasika, abdominal
• Arteri cororla
- Supplai jantung.
Perbedaan vena dan arteri
Pembeda Vena Arteri
Tunica Media Kecil Besar
Diameter Besar Kecil
Valve / Katub Penya Tidak Punya
Katub Vena (valve)
• Banyak katub pada vena sedang terutama ekstremitas inferior untuk mencegah aliran darah kembali ke jantung akibat gaya berat badan.
• Berupa tonjolan tunika intima ke dalam lumen dan saling berhadapan. Katub disusun oleh jaringan ikat elastis yang permukaannya di lapisi oleh endotel. Antara katub dengan dinding vena sebelah distal katub membentuk suatu pelebaran akibat dinding di sini tipis yang disebut sinus.
• Pada vena superficialis jaringan penyangga sgt kurang sehingga sinus makin melebar membentuk varises. Varises akan bertambah lebar bila terjadi sumbatan di bagian distal
Rabu, 26 November 2008
Kelor ( Moringa oleifera Lamk. )
A. Nama ilmiah : Moringa oleifera Lamk.
Moringa pterygosperma Gaertn.
B. Nama daerah : Kelor (Indonesia), Kelor (Jawa, Sunda, Bali, Lampung), Marangghi (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo), Keloro (Bugis), Kerol (Buru), Kawona (Sumba), Ongge (Bima), Hau fo (Timor).
C. DESKRIPSI MORFOLOGI
Kelor (moringa oleivera) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 -11 meter. Pohonnya kecil, poreus, rasa dan bau tajam. Di Jawa, Kelor sering dimanfaatkan sebagai tanaman pagar karena berkhasiat untuk obat-obatan. Pohon Kelor tidak terlalu besar. Batang kayunya getas (mudah patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai.Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bijinya berbau minyak ”behen” atau ”ben”, bersegi tiga, bersayap 3, seperti selaput, dalam bentuk sisir dengan paruk yang menajam (klentang). Daunnya bersirip tak sempurna, daun kecil, berbentuk telur, sebesar ujung jari. Bunganya berwarna putih kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau, terkumpul dalam pucuk lembaga di bagian ketiak. Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa). Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa). Kulit akarnya berasa dan berbau tajam dan pedas. Biasanya dijual sebagai pipa kecil atau dipotong menjadi bentuk saluran. Bagian dalam akar berwarna kuning pucat, bergaris halus, tetapi terang dan melintang. Pengembangbiakannya dapat dengan cara stek.
D. MANFAAT TUMBUHAN
Kelor ( Moringa oleifera Lamk) banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Banyak berbagai macam penyakit yang dapat sembuh dengan mengkonsumsi tanaman kelor ini, entah yang diambil bagian akar, batang, daun, bunga, buah, maupun bijinya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, seperti : untuk bahan makanan. Biasanya bagian yang diambil untuk dijadikan bahan makanan adalah daunnya. Daun tersebut dimasak menjadi sayur bening atau sayur bobor, yang tentunya mempunyai nilai gizi tinggi.
E. KANDUNGAN KIMIA DAN EFEK FARMAKOLOGI
Akar dan daun kelor ( Moringa oleifera ) mengandung zat yang berasa pahit, getir dan pedas. Biji kelor juga mengandung minyak atau lemak. Kandungan yang terdapat pada masing-masing tumbuhan kelor tentunya memiliki efek farmakologi masing-masing, yang dapat bermanfaat dalam pengobatan.
F. BAGIAN TUMBUHAN YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT
Hampir semua bagian tubuh tumbuhan kelor dapat diguakan sebagai obat, antara lain : akar, batang, daun, tangkai daun, buah, bunga, maupun biji.
G. KEGUNAAN DALAM PENGOBATAN
Sakit Kuning. 3-7 gagang daun kelor, 1 sendok makan madu dan 1 gelas air kelapa hijau. Daun kelor ditumbuk halus, diberi 1 gelas air kelapa dan disaring. Kemudian ditambah 1 sendok makan madu dan diaduk sampai merata. Diminum, dan dilakukan secara rutin sampai sembuh.
Reumatik, Nyeri dan Pegal Linu. 2-3 gagang daun kelor, 1/2 sendok makan kapur sirih. Kedua bahan tersebut ditumbuk halus. Dipakai untuk obat gosok (param).
Rabun Ayam. 3 gagang daun kelor. Daun kelor ditumbuk halus, diseduh dengan 1 gelas air masak dan disaring. Kemudian dicampur dengan madu dan diaduk sampai merata. Diminum sebelum tidur.
Sakit Mata. 3 gagang daun kelor. Daun kelor ditumbuk halus, diberi 1 gelas air dan diaduk sampai merata. Kemudian didiamkan sejenak sampai ampasnya mengendap. Air ramuan tersebut digunakan sebagai obat tetes mata.
Sukar Buang Air Kecil. 1 sendok sari daun kelor dan sari buah ketimun atau wortel yang telah diparut dalam jumlah yang sama. Bahan-bahan tersebut dicampur dan ditambah dengan 1 gelas air, kemudian disaring. Diminum setiap hari.
Cacingan. 3 gagang daun kelor, 1 gagang daun cabai, 1-2 batang meniran. Semua bahan tersebut direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring. Diminum.
Biduren (alergi). 1-3 gagang daun kelor, 1 siung bawang merah dan adas pulasari secukupnya. Semua bahan tersebut direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 2 gelas, kemudian disaring. Diminum 2 kali sehari 1 gelas, pagi dan sore.
Luka bernanah. 3-7 gagang daun kelor. Daun kelor ditumbuk sampai halus. Ditempelkan pada bagian yang luka sebagai obat luar.
( Thomas A.N.S . 1992 )
H. INFORMASI LAIN
1. Sepintas daun kelor mirip dengan daun katuk, bentuknya bulat dan berwarna hijau. Tanaman kelor merupakan pohon berkayu yang tingginya bisa mencapai 6 meter. Biji tanaman yang sudah tua bisa dimanfaatkan sebagai penjernih air sumur yang keruh. Sedangkan daunnya enak dimakan menjadi beragam masakan.Keunggulan daun kelor terletak pada kandungan nutrisinya, terutama golongan mineral dan vitamin. Setiap 100 g daun kelor mengandung 3390 SI vitamin A. Dua kali lebih tinggi dari bayam dan tigapuluh kali lebih tinggi dari buncis. Daun kelor juga tinggi kalsium, sekitar 440 mg/100 g, serta fosfor 70 mg/100 g. Aroma daun kelor agak langu, namun aroma berkurang ketika daun mudanya diolah menjadi sayur bening atau sayur bobor. ( Budi Sutomo. 2008 )
2. Penjernihan Air dengan Biji Kelor ( Moringa oleifera )
Penjernihan air dengan biji kelor (Moringa Oleifera) dapat dikatakan penjernihan air dengan bahan kimia, karena tumbukan halus biji kelor dapat menyebabkan terjadinya gumpalan (koagulan) pada kotoran yang terkandung dalam air.
Cara penjernihan ini sangat mudah dan dapat digunakan di daerah pedesaan yang banyak tumbuh pohon kelor. Bentuk daun, bunga, dan buah kelor dapat dilihat pada Gambar. Bahan untuk menjernihkan air adalah biji kelor yang sudah tua betul dan kering.
Cara pembuatan :
a. Kupas biji kelor dan bersihkan kulitnya.
b. Biji yang sudah bersih dibungkus dengan kain, kemudian ditumbuk sampai halus betul. Penumbukan yang kurang halus dapat menyebabkan kurang.
c. Campur tumbukkan biji kelor dengan air keruh dengan perbandingan 1 biji : 1 lt air keruh.
d. Campur tumbukkan biji kelor dengan sedikit air sampai berbentuk pasta. Masukkan pasta biji kelor ke dalam air kemudian diaduk.
e. Aduklah secara cepat 30 detik, dengan kecepatan 55-60 putaran/menit.
f. Kemudian aduk lagi secara berlahan dan beraturan selama 5 menit dengan kecepatan 15-20 putaran/menit.
g. Setelah dilakukan pengadukan, air diendapkan selama 1-2 jam. Makin lama waktu pengendapan makin jernih air yang diperoleh.
h. Pisahkan air yang jernih dari endapan. Pemisahan harus dilakukan dengan hati-hati agar endapan tidak naik lagi.
i. Pada dasar bak pengendapan diberi kran yang dapat dibuka, sehingga
endapan dapat dikeluarkan bersama-sama dengan air kotor.
Keuntungan :
Caranya sangat mudah
Tidak berbahaya bagi kesehatan
Dapat menjernihkan air lumpur, maupun air keruh ( keputih-putian, kekuning – kuningan, keabu – abuan )
Kualitas air lebih baik :
Kuman berkurang
Zat organik berkurang sehingga pencemaran kembali berkurang
Air lebih cepat mendidih.
Kerugian :
Kelor tidak berada di semua daerah
Air hasil penjeernihan dengan kalor harus segera digunakan dan tidak dapat disimpan untuk hari berikutnya.
Penjernihan dengan cara inihanya untuk skala kecil.
( Al Azharia. 1981 )
Moringa pterygosperma Gaertn.
B. Nama daerah : Kelor (Indonesia), Kelor (Jawa, Sunda, Bali, Lampung), Marangghi (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo), Keloro (Bugis), Kerol (Buru), Kawona (Sumba), Ongge (Bima), Hau fo (Timor).
C. DESKRIPSI MORFOLOGI
Kelor (moringa oleivera) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 -11 meter. Pohonnya kecil, poreus, rasa dan bau tajam. Di Jawa, Kelor sering dimanfaatkan sebagai tanaman pagar karena berkhasiat untuk obat-obatan. Pohon Kelor tidak terlalu besar. Batang kayunya getas (mudah patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai.Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bijinya berbau minyak ”behen” atau ”ben”, bersegi tiga, bersayap 3, seperti selaput, dalam bentuk sisir dengan paruk yang menajam (klentang). Daunnya bersirip tak sempurna, daun kecil, berbentuk telur, sebesar ujung jari. Bunganya berwarna putih kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau, terkumpul dalam pucuk lembaga di bagian ketiak. Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa). Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa). Kulit akarnya berasa dan berbau tajam dan pedas. Biasanya dijual sebagai pipa kecil atau dipotong menjadi bentuk saluran. Bagian dalam akar berwarna kuning pucat, bergaris halus, tetapi terang dan melintang. Pengembangbiakannya dapat dengan cara stek.
D. MANFAAT TUMBUHAN
Kelor ( Moringa oleifera Lamk) banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Banyak berbagai macam penyakit yang dapat sembuh dengan mengkonsumsi tanaman kelor ini, entah yang diambil bagian akar, batang, daun, bunga, buah, maupun bijinya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, seperti : untuk bahan makanan. Biasanya bagian yang diambil untuk dijadikan bahan makanan adalah daunnya. Daun tersebut dimasak menjadi sayur bening atau sayur bobor, yang tentunya mempunyai nilai gizi tinggi.
E. KANDUNGAN KIMIA DAN EFEK FARMAKOLOGI
Akar dan daun kelor ( Moringa oleifera ) mengandung zat yang berasa pahit, getir dan pedas. Biji kelor juga mengandung minyak atau lemak. Kandungan yang terdapat pada masing-masing tumbuhan kelor tentunya memiliki efek farmakologi masing-masing, yang dapat bermanfaat dalam pengobatan.
F. BAGIAN TUMBUHAN YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT
Hampir semua bagian tubuh tumbuhan kelor dapat diguakan sebagai obat, antara lain : akar, batang, daun, tangkai daun, buah, bunga, maupun biji.
G. KEGUNAAN DALAM PENGOBATAN
Sakit Kuning. 3-7 gagang daun kelor, 1 sendok makan madu dan 1 gelas air kelapa hijau. Daun kelor ditumbuk halus, diberi 1 gelas air kelapa dan disaring. Kemudian ditambah 1 sendok makan madu dan diaduk sampai merata. Diminum, dan dilakukan secara rutin sampai sembuh.
Reumatik, Nyeri dan Pegal Linu. 2-3 gagang daun kelor, 1/2 sendok makan kapur sirih. Kedua bahan tersebut ditumbuk halus. Dipakai untuk obat gosok (param).
Rabun Ayam. 3 gagang daun kelor. Daun kelor ditumbuk halus, diseduh dengan 1 gelas air masak dan disaring. Kemudian dicampur dengan madu dan diaduk sampai merata. Diminum sebelum tidur.
Sakit Mata. 3 gagang daun kelor. Daun kelor ditumbuk halus, diberi 1 gelas air dan diaduk sampai merata. Kemudian didiamkan sejenak sampai ampasnya mengendap. Air ramuan tersebut digunakan sebagai obat tetes mata.
Sukar Buang Air Kecil. 1 sendok sari daun kelor dan sari buah ketimun atau wortel yang telah diparut dalam jumlah yang sama. Bahan-bahan tersebut dicampur dan ditambah dengan 1 gelas air, kemudian disaring. Diminum setiap hari.
Cacingan. 3 gagang daun kelor, 1 gagang daun cabai, 1-2 batang meniran. Semua bahan tersebut direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring. Diminum.
Biduren (alergi). 1-3 gagang daun kelor, 1 siung bawang merah dan adas pulasari secukupnya. Semua bahan tersebut direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 2 gelas, kemudian disaring. Diminum 2 kali sehari 1 gelas, pagi dan sore.
Luka bernanah. 3-7 gagang daun kelor. Daun kelor ditumbuk sampai halus. Ditempelkan pada bagian yang luka sebagai obat luar.
( Thomas A.N.S . 1992 )
H. INFORMASI LAIN
1. Sepintas daun kelor mirip dengan daun katuk, bentuknya bulat dan berwarna hijau. Tanaman kelor merupakan pohon berkayu yang tingginya bisa mencapai 6 meter. Biji tanaman yang sudah tua bisa dimanfaatkan sebagai penjernih air sumur yang keruh. Sedangkan daunnya enak dimakan menjadi beragam masakan.Keunggulan daun kelor terletak pada kandungan nutrisinya, terutama golongan mineral dan vitamin. Setiap 100 g daun kelor mengandung 3390 SI vitamin A. Dua kali lebih tinggi dari bayam dan tigapuluh kali lebih tinggi dari buncis. Daun kelor juga tinggi kalsium, sekitar 440 mg/100 g, serta fosfor 70 mg/100 g. Aroma daun kelor agak langu, namun aroma berkurang ketika daun mudanya diolah menjadi sayur bening atau sayur bobor. ( Budi Sutomo. 2008 )
2. Penjernihan Air dengan Biji Kelor ( Moringa oleifera )
Penjernihan air dengan biji kelor (Moringa Oleifera) dapat dikatakan penjernihan air dengan bahan kimia, karena tumbukan halus biji kelor dapat menyebabkan terjadinya gumpalan (koagulan) pada kotoran yang terkandung dalam air.
Cara penjernihan ini sangat mudah dan dapat digunakan di daerah pedesaan yang banyak tumbuh pohon kelor. Bentuk daun, bunga, dan buah kelor dapat dilihat pada Gambar. Bahan untuk menjernihkan air adalah biji kelor yang sudah tua betul dan kering.
Cara pembuatan :
a. Kupas biji kelor dan bersihkan kulitnya.
b. Biji yang sudah bersih dibungkus dengan kain, kemudian ditumbuk sampai halus betul. Penumbukan yang kurang halus dapat menyebabkan kurang.
c. Campur tumbukkan biji kelor dengan air keruh dengan perbandingan 1 biji : 1 lt air keruh.
d. Campur tumbukkan biji kelor dengan sedikit air sampai berbentuk pasta. Masukkan pasta biji kelor ke dalam air kemudian diaduk.
e. Aduklah secara cepat 30 detik, dengan kecepatan 55-60 putaran/menit.
f. Kemudian aduk lagi secara berlahan dan beraturan selama 5 menit dengan kecepatan 15-20 putaran/menit.
g. Setelah dilakukan pengadukan, air diendapkan selama 1-2 jam. Makin lama waktu pengendapan makin jernih air yang diperoleh.
h. Pisahkan air yang jernih dari endapan. Pemisahan harus dilakukan dengan hati-hati agar endapan tidak naik lagi.
i. Pada dasar bak pengendapan diberi kran yang dapat dibuka, sehingga
endapan dapat dikeluarkan bersama-sama dengan air kotor.
Keuntungan :
Caranya sangat mudah
Tidak berbahaya bagi kesehatan
Dapat menjernihkan air lumpur, maupun air keruh ( keputih-putian, kekuning – kuningan, keabu – abuan )
Kualitas air lebih baik :
Kuman berkurang
Zat organik berkurang sehingga pencemaran kembali berkurang
Air lebih cepat mendidih.
Kerugian :
Kelor tidak berada di semua daerah
Air hasil penjeernihan dengan kalor harus segera digunakan dan tidak dapat disimpan untuk hari berikutnya.
Penjernihan dengan cara inihanya untuk skala kecil.
( Al Azharia. 1981 )
Langganan:
Postingan (Atom)
Tercipta Untukku
Me & My Soulmate
I Love U Forever
